Monday, 9 January 2012

BADUT DAN SEJARAHNYA



Siapa yang tidak kenal badut? Tokoh yang satu ini memang sangat terkenal di seantero dunia. Dengan make-up tebal atau menggunakan topeng berwajah konyol, rambut berwarna-warni, hidung merah bulat yang serupa tomat, kostum besar berperut buncit dengan renda yang melingkar di lehernya, serta sepatu yang besar, mereka mampu menarik perhatian setiap orang bila melihatnya.
Badut biasanya muncul pada acara-acara hiburan ataupun di tempat-tempat hiburan. Sesuai perkembangannya, badut kini takhanya sebagai karakter penghibur saja. Badut kini digunakan sebagai maskot untuk produk perusahaan tertentu, acara-acara besar, pameran, ataupun acara olahraga. Badut jenis tersebut dinamakan dengan badut maskot. Ada lagi yang dinamakan badut karakter. Jenis  badut yang ini adalah badut dengan setelan tokoh film kartun, seperti doraemon, spongebob, dan lain-lain, sehingga lebih disukai oleh anak-anak.
Kapankah karakter badut tersebut muncul? Sejarah berpendapat bahwa badut sudah ada sejak zaman Yunani Kuno serta zaman Romawi Kuno. Pada zaman tersebut, kostum badut bukanlah seperti pada zaman sekarang. Para tokoh badut tersebut memulai aksinya dengan memoles wajah mereka dengan bedak tebal dan berpakaian warna-warni. Lalu, mereka turun ke jalan dan menghibur masyarakat dengan mimik wajah yang lucu dan aksi-aksinya yang konyol. Banyak yang bilang bahwa badut merupakan “pengamen” tertua di dunia, karena mereka mencari nafkah di balik aksi-aksinya yang konyolnya pada zaman tersebut.
Seiring perkembangan zaman, badut berkembang melalui fase-fase hingga terbentuk badut seperti zaman sekarang. Pada abad 5 M—1500 M, di benua Eropa, khususnya di Italia, muncul tokoh-tokoh badut yang sangat terkenal. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan arlecchino atau harlequin. Dua tokoh tersebut dipopulerkan oleh kelompok sandiwara Commedia dell’ arte.
Fase yang signifikan terjadi pada abad 18 M. Badut pada zaman tersebut akhirnya menjadi bagian yang sangat penting dalam pertunjukan sirkus. Badut bukan hanya sebagai tokoh penghibur, namun bisa memainkan aksi-aksi sirkus yang menegangkan. Uniknya dari tokoh badut sirkus tersebut adalah ia bisa kembali menurunkan adrenalin penonton yang menaik ketika melihat aksinya yang menegangkan dengan  ekspresi wajahnya yang konyol.
Seorang pemain sirkus terkenal di abad ke-18 M, Joseph Grimaldi atau yang lebih dikenal dengan Joey Grimaldi berhasil menghidupkan tokoh badut yang diperankannya. Karakter badut yang dinamai Jocy, konon mampu menarik perhatian penontonnya. Ia takhanya menampilkan mimik-mimik lucu dan konyol, namun bisa juga menampilkan mimik sedih, bahkan ketakutan.
Lewat karakter Jocy inilah, aksi badut kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan dunia teater. Dunia teater mengenal istilah “pantomim/pantomime”, yaitu pertunjukan drama nirkata yang dimainkan dengan gerakan yang slapstik dan ekspresi wajah. Pemain pantomim pun hampir sama dengan badut, yakni merias wajahnya dengan make-up tebal dan memakai kostum yang unik (biasanya baju belang-belang, memakai bretel dan celana pantalon).
Badut telah memegang sejarahnya sendiri. Dengan tingkahnya yang lucu, akhirnya badut menjadi terkenal hingga di seluruh dunia. Barangkali takberlebihan kiranya jika seorang penulis lagu Amerika, Cole Portner (1893—1964), yang berkata “All the world loves a clown” yang berarti semua (orang) di dunia mencintai badut.
Di Indonesia sendiri, badut bukan hanya sebagai penghibur ataupun maskot. Ia juga menjadi sarana untuk mengamen. Namun, mereka tidak bertingkah konyol dan mengeluarkan mimik-mimik yang lucu. Badut jalanan ini hanya mengandalkan sebuah tape jinjing atau kecrekan yang dibawa kemanapun si badut melangkah. Dari rumah ke rumah mereka akan bernyanyi, berjoget kaku, atau cuma bergumam takjelas di balik topengnya (Jangan salah kira, topeng mereka sama sekali berbeda dengan topeng badut pada umumnya!).
Saya mungkin akan takut melihat karakter badut yang seperti ini. Betapa tidak, mereka berkostum seperti penari perempuan, bertudung dan menggunakan topeng wajah perempuan. Mereka memakai baju gamis perempuan yang panjang, namun bukan berarti mereka adalah murni perempuan. Melihat segi fisiknya, badut tersebut sangat terkesan seperti boneka perempuan yang biasa dipakai untuk memanggil roh halus… Hiiii! (ini cuma pendapat saya lho!).
Ada banyak karakter badut di negeri ini. Yang paling lucu adalah badut berdasi. Badut-badut berdasi ini biasa dijumpai di gedungnya yang megah dan mewah, lengkap dengan segala fasilitas kemewahan yang ada. Badut berdasilah yang merupakan karakter badut paling konyol di negeri ini. Haha, salam badut…

I . N . D . O . N . E . S. I . (A)



Tahun 2012 masihlah terbilang baru, sekitar seminggu berjalan. Namun, di balik seminggu itu, ternyata telah banyak masalah yang melanda Indonesia. Mulai dari kecelakaan, pembunuhan, penembakan misterius, kasus “sandal jepit”, hingga bencana alam yang silih berganti. Semuanya terjadi serentak dalam tenggak waktu seminggu ini. Baru seminggu saja sudah banyak masalah, bagaimana dengan minggu-minggu dan bulan-bulan ke depannya? Begitulah pemikiran saya.
Kasus tersebut silih berebut menjadi deadline utama dalam warta berita atau pun di media masa. Masyarakatlah yang kelimpungan. Belum selesai mereka melihat berita kecelakaan bis “Sumber Bencono” eh.. “Sumber Kencono”, stasiun teve yang lain sudah menayangkan kasus penembakan misterius di Aceh. Di stasiun teve yang lain marak memberitakan kasul pencurian sandal jepit yang berujung tindak kekerasan yang dilakukan dua orang anggota polisi terhadap seorang pelajar SMK. Orang-orang bersimpati dengan mengadakan aksi “Seribu Sandal untuk AAL” (Kini, sandal jepit Swallow menjadi laku dan tenar!!).
Media kebanjiran berita. Alam sekitar pun mengamininya dengan ikut-ikutan menyumbangkan bencana alam untuk mereka liput. Banjir, longsor, angin puting beliung, hingga pohon tumbang dan baliho yang ambruk karena angin di Jakarta, menjadi langganan untuk masuk teve. Indonesia tidak hanya dihadapkan pada kasus yang dilakukan oleh manusianya saja, tetapi ditingkahi pula oleh alam-alamnya yang mulai “mengamuk” seiring manusianya yang juga mulai “mengamuk”.
Inilah. Indonesia terjebak dalam dua aspek. Satu sisi, Indonesia terjebak dengan kondisi alam Indonesia yang rawan, iklim yang takmenentu, dan musim hujan yang tinggi. Di sisi lain, manusia Indonesia mulai memunculkan sifat-sifat “aslinya”—seperti yang pernah diutarakan oleh Mochtar Lubis—munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya takhayul/mimpi, serta berbakat seni tapi lemah dalam watak karakternya[1]. Stereotipe tersebut memang terkesan mengada-ada, tetapi jangan sekali-kali kita tidak mempercayainya. Kenyataannya manusia Indonesia kini tidak lagi mementingkan norma. Setidaknya terlihat dari beberapa kasus yang “nongol” di awal tahun 2012 ini.
Khusus untuk permasalahan yang dilakukan oleh manusia, kepada siapakah kiranya kita harus mengadukan masalah ini? Kepada hukum? Apakah memang kini hukum sudah mengakar kuat dalam Undang-undang? Kita tidak punya pilihan. Hukum sudah dibuat, dan kita—sebagai masyarakat kecil—dipaksa untuk mengabdi pada hukum. (kenyataannya, manusia feodal tidak pernah sudi mengabdi pada hukum!)
Barangkali, alam pun sudah jenuh melihat tingkah manusia Indonesia yang makin hari makin beringas saja. Warga sipil begitu mudahnya punya senjata (dan akan dengan mudah pula menembak ke orang!). Saya menganggap bahwa Indonesia kini sedang mengalami peperangan. Perang melawan bangsa sendiri. Perang melawan saudara sendiri. Manusia Indonesia akan memusuhi manusia Indonesia lainnya, hanya karena masalah sepele. Kaum feodal akan dengan mudahnya memusuhi ratusan orang dengan menggusur sebuah sekolah (lagi-lagi klaim tanah warisan!). Perang semacam inilah yang sangat ditakuti. Bukan perang antar negara. Bukan perang dingin antar dua negara adidaya (sekarang masih tidak?). Perang yang lambat laun akan menghancurkan eksistensi dari keindonesiaan itu sendiri. Perang yang terjadi antara manusia Indonesia yang satu dengan manusia Indonesia lainnya (Polisi juga kan orang Indonesia…).
Guru sekolah kita akan selalu bilang bahwa Indonesia adalah negara “Bhinneka Tunggal Ika”. Simbol tersebut kini seakan mati tergerus zaman Kalatidha. Gotong royong bukan lagi milik bersama, tetapi kini menjadi milik individu/kelompok tertentu. Segerombolan masa bergotong royong membakar rumah dinas walikota. Itu `kan bahasa halusnya.
Saya berpikir (dalam pikiran yang mengambang di warung kopi) bahwa bangsa ini sebenarnya adalah bangsa yang hebat, buktinya dengan gotong royong tadi, mereka bisa menghancurkan apa yang selama ini menjadi tujuan utama. Tahun 2012 adalah tahun resolusi, bukan tahun yang itu-itu juga. Resolusi yang terbentuk haruslah demi kepentingan manusia Indonesia lainnya juga. Hukum haruslah bertindak adil, jangan sebelah mata ataupun katarak terhadap pelanggaran hukum. Jika hukum tidak mampu adil di bumi Nusantara ini, maka semestalah yang akan mengadili kita dengan seadil-adilnya.
Kini, kasus apa lagi yang akan kita temui esok hari?


[1] Pembicaraan ini dikutip dari naskah pidato Mochtar Lubis pada tahun 1977, dan kini dibukukan dengan judul “Manusia Indonesia” terbitan Yayasan Obor Indonesia.

Friday, 6 January 2012

Pantau Kepribadian Melalui Facebook



Tren dunia jejaring sosial dewasa ini semakin berkembang penggunaannya. Sejak beberapa tahun terakhir bermunculan situs-situs pertemanan atau biasa disebut sebagai situs jejaring sosial di internet. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna situs jejaring terbanyak di dunia. Salah satu contoh, situs jejaring sosial Facebook, kini hampir telah meraup sekitar separuh dari bangsa Indonesia. Tua, muda, laki-laki, dan perempuan hampir semua memiliki akun di situs pertemanan ini.
Tidak heran memang jika setiap orang memiliki akun pribadi masing-masing di situs Facebook. Selain bisa meng-update informasi, aktivitas sehari-hari, mereka bisa berbagi apa saja dengan teman-teman lain di Indonesia, bahkan luar negeri. Misalnya, berbagi foto, video, musik, dan lain-lain. Teknologi telah mendekatkan jarak antar manusia di muka bumi ini dengan kemunculan Facebook.
Seiring perkembangannya, Facebook bukan lagi menjadi wadah pengisi aktivitas manusia, melainkan menjadi ikon atau citra dari karakter manusia itu sendiri. Saya sering melihat status-status teman di Facebook, kita ambil contoh salah satunya adalah status “Jalan-jalan sore sambil liatin cewek sexy!!!”. Status tersebut ditulis oleh seorang laki-laki. Dan di bawah status tersebut ada komentar dari teman-temannya yang isinya kurang lebih ingin ikut jalan-jalan bersama dengan laki-laki tersebut. Citra yang tertangkap dari status laki-laki tadi adalah ia seorang laki-laki mata keranjang.
Benarkah Facebook bisa mengubah dan membentuk citra seseorang? Ini bisa dilihat dari perkembangan status aktivitasnya. Seseorang bisa dikatakan playboy atau mata keranjang oleh orang-orang karena sering menulis status tentang perempuan. Seseorang yang lain bisa disebut sebagai orang alay karena sering menulis status dengan huruf besar dan kecil dan menggunakan kata-kata/bahasa alay.
Semua orang ingin serbaeksis di Facebook. Semua orang ingin menjadi tenar dalam sekejap di dunia maya. Status bukan hanya sekadar catatan harian dari aktivitas seseorang, namun ia bisa menjadi cerminan dari pribadi yang menulisnya. Saya ambil contoh yang lain, sastrawan akan menulis status yang rata-rata puitis karena memang karakter jiwanya telah terbentuk menjadi seorang sastrawan, sehingga apa yang ditulisnya akan menjadi bahasa yang sastrawi di media manapun ia menulis. Citra adalah karakter yang dapat terlihat dari seorang individu. Citra itu sendiri akan selalu nampak dalam setiap aktivitasnya.
Facebook bukan sekadar media pertemanan dan jejaring sosial biasa. Dengan adanya aplikasi penulisan aktivitas, orang akan lebih mudah “curhat”. Namun, tentunya kita pun harus sadar untuk tidak terlalu menulis secara berlebihan. Sebab, apapun tulisan dalam status kita, itu mencerminkan kepribadian kita dan apa yang kita lakukan setiap harinya. Jika memang kita harus menulis status, maka tulislah status aktivitas yang memang mencerminkan siapa diri kita sebenarnya, bukan malah membuat-buat sebuah citra yang lain. Gunakanlah Facebook sebagai media jejaring sosial, bukan sebagai media untuk mengeksiskan diri.

Sunday, 1 January 2012

Tentang Menulis #1 (Pembicaraan Sekitar Proses Kreatif)

Akhir-akhir ini saya menjadi sering menulis. Bukan karena ikut-ikutan, bukan karena sok pamer bahwa saya mahir menulis, juga bukan karena saya memiliki catatan harian. Setelah berkutat dengan kegiatan yang “pura-pura” ilmiah, kini sudah waktunya untuk kembali meluangkan waktu, mengungkapkan pemikiran melalui menulis.

Menulis bukan semata-mata merangkai kata hingga membentuk kalimat yang saling menyambung, menulis adalah mengungkapkan pikiran yang sekiranya kita tidak mungkin mengungkapkannya lewat media lisan.

Ketika kita menulis, apa saja, selalu ada pikiran kita yang dituangkan di dalamnya, termasuk pandangan atau penolakan kita, karena menulis merupakan media yang paling baik untuk berbicara. Tidak semua orang akan pandai berbicara, karena ada juga orang yang pendiam dan jarang berbicara. Namun, kenyataannya, orang-orang yang pendiam punya media bicara yang lebih baik, yakni tulisan. Setidaknya tulisan bersifat jujur dan murni hasil pemikiran si penulisnya. Kita tidak bisa bohong melalui tulisan. Sebaliknya, kita akan dengan mudah berbohong ketika kita berbicara.

PERAYAAN TAHUN BARU

Tahun baru telah tiba…
Orang-orang berduyun-duyun, turun ke jalan, turun ke seantero tempat-tempat ramai. Menyalakan petasan dan kembang api, meniup terompet yang memekakkan telinga, berpesta pora menyambut detik-detik pergantian tahun. Bahagia, seolah-olah mereka terkekang di tahun-tahun yang lama. Euforia, seperti orang-orang Afrika Selatan yang bahagia ketika politik Apartheid dihapuskan. Tua muda laki perempuan, semua bergumul dalam perayaan malam yang gilang gemilang seperti ketika Tembok Berlin dihancurkan di Jerman.
Langit malam menjadi benderang. Semua penuh dengan bunga-bunga api yang menari-nari. Tidak peduli meski hujan, kembang api itu akan tetap menyala dan menari-nari mengalahkan rintik hujan yang membasahi masing-masing kepala yang melihatnya. Jalanan macet, khas perayaan tahun baru. Di kota Bandung sendiri, polisi sibuk mengatur lalu lintas. Orang-orang dari luar kota sengaja datang ke Bandung untuk merayakan euforia bersama-sama warga Bandung lainnya (gara-gara mereka pula, aku jadi tidak bisa keluar rumah, maceeeetttt).
Mereka menganggap tahun baru Masehi layak untuk dirayakan, karena mereka selalu berharap akan ada sesuatu yang baru yang kelak mereka dapatkan di Tahun yang baru (meski terkadang “baru” itu tidak bersifat absolut). Orang kaya dan orang miskin sealalu mempunyai harapan yang sama, yakni mendapat rezeki yang bagus daripada tahun-tahun sebelumnya.
Ketika tahun baru tiba, orang-orang selalu menganggap bahwa tahun sebelumnya adalah tahun yang selalu ada kekurangan. Mereka akan merayakan pergantian tahun yang baru dan segera akan melupakan tahun yang baru itu ketika tahun yang lebih baru lagi akan datang. Apakah memang pada tahun yang baru selalu akan ada sesuatu yang baru? Yeah, itu hanya sebatas harapan. Manusia akan selalu berharap, betul kan?
Tahun baru adalah satu Januari, setidaknya itu menurut sistem penanggalan Masehi. Menurut kepercayaan Nasrani, sudah 2012 tahun Tuhan Yesus (Isa) dilahirkan di sebuah kandang. Setidaknya itu menurut kepercayan mereka. Dengan lahirnya Isa, maka saat itu pula dinyatakan sebagai Tahun Masehi, dan sebelum Isa lahir dinamakan tahun sebelum Masehi yang dalam bahasa Inggris disebut BC (Before Christ). Hal ini tentunya berbeda dengan pandangan agama Islam. Nabi Isa as. dilahirkan dari rahim Maryam di sebuah pohon kurma. Atas mukjizat Allah swt, Maryam yang tidak punya suami itu bisa melahirkan Isa yang kelak akan membawa rahmat bagi bangsa Bani Israil (ups, saya tidak sedang memperdebatkan agama lho!).
Kembali ke tahun Masehi, kemunculan tahun Masehi ini merupakan tonggak berkembangnya sebuah peradaban manusia setelah mereka mengenal tulisan. Manusia berkembang dan terus berkembang, beregenerasi hingga akhirnya sampai ke zaman kita (2012). Apakah pada zaman dahulu orang-orang juga merayakan pergantian tahun juga? Itu masalahnya.
Orang-orang zaman kekinian akan selalu merayakan saat-saat pergantian tahun. Itu manusiawi. Orang-orang zaman sekarang lebih menyukai euforia, kemeriahan, dan keramaian. Ketika ada hari-hari besar tertentu, mereka akan selalu merayakannya karena itu adalah wujud penghormatan. Bagi mereka, manusia harus selalu bersyukur masih diberi waktu sampai saat ini, sampai saat-saat pergantian tahun itu tiba.
Masalahnya, orang-orang bereuforia akan melakukan hal-hal apa saja. Orang-orang menyalakan petasan, pasangan muda-mudi akan saling memeluk dan mencium demi menguatkan cinta mereka di tahun yang akan datang. Anak-anak dipaksa bergadang. Bagaimana jika mereka tiba-tiba meninggal ketika perayaan itu sedang berlangsung? Apakah saudara-saudaranya yang lain masih akan bereuforia?
Manusia melupakan makna hakiki dari pergantian tahun baru itu, yakni tahun baru merupakan ajang untuk memperbaiki hati, pikiran, dan karakter kita. Jangan sampai di tahun baru esok kita masih berbuat kesalahan yang sama, dan masih akan terus mengulangi kebodohan yang sama. Jika masih seperti itu, itu bukan tahun baru Bung!
Tidak ada salahnya kita merayakan. Tidak ada salahnya kita berbahagia menyongsong tahun yang baru. Dan tentu saja tidak ada salahnya untuk mengubah sikap dan berpikir jauh ke depan sejauh kembang api yang dilepaskan ke langit menari-nari nun jauh di angkasa sana.
Selamat mengakrabi makna hakiki dari sebuah kehidupan di tahun yang baru. Selamat Tahun Baru 2012. 
Sambil melihat parade kembang api, 31 Desember—01 Januari 2012