Sunday, 3 June 2012

Bahasa Ilmiah

Seno Gumira Ajidarma
sumber gambar : di sini

SAAT mengikuti penjelasan seorang dosen tentang bahasa ilmiah, beliau memberi contoh bahwa tidak dibenarkan menuliskan kalimat seperti berikut: “Menurut pendapat gue….”
Hehe. Waktu itu semua mahasiswa tertawa. Namun saya sempat berpikir, bagaimana kalau kita tidak hidup di Republik Indonesia, tetapi di Republik Betawi? Benarkah bahasa Betawi masih tidak layak dan tidak sahih menjadi bahasa ilmiah?

KEHIDUPAN MALAM


Saya punya pendapat yang unik, "Kehidupan suatu kota akan terlihat ketika malam menjelang." Pendapat tersebut bukanlah hal yang klise. Sebab kenyataannya, kota tidak selamanya ramai ketika siang, apalagi bagi kota-kota yang menyandang status sebagai ibu kota. Tidak heran apabila muncul spekulasi bahwa kota besar adalah kota yang tidak pernah tidur.

Jika dahulu, suatu kota atau perkampungan akan lengang di malam hari, tidak ada siapa-siapa selain penjaga malam dan maling-maling yang mnecari nafkah, siapa tahu. Apalagi pada saat zaman revolusi, banyak sekali status jam malam, sehingga membuat orang-orang enggan untuk keluar pada malam hari. Akan tetapi, kini orang-orang sudah tidak mengenal kata "takut" ketika malam tiba.

Saturday, 2 June 2012

POHON







Kita adalah daun-daun yang dibentuk pohon
meskipun ada yang gugur, pohon itu akan tetap ada...


Sebatang pohon tinggi menjulang menantang langit. Namun, ia bukanlah seorang yang sombong, karena apabila semakin tinggi pohon, semakin tualah ia, dan semakin banyak risiko yang dihadapi ketika kita membiarkan pohon tua tersebut. Bisa-bisa, diguyur hujan saja, pohon itu akan mudah tumbang dan mencelakakan banyak orang. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah perawatan yang intensif bagi pohon-pohon tersebut.

Pohon adalah sebuah dunia. Dunia bagi berjuta-juta organisme yang hidup di dalamnya. Banyak sekali makhluk hidup yang menggantungkan hidupnya pada suatu pohon. Oleh karena itu, tidak salah jika pohon adalah rumah sekaligus dunia bagi mereka. Dunia tempat mereka bertahan hidup. Dunia tempat mereka mendapatkan makan., serta dunia dimana mereka merasa aman di dalamnya.


SANJUNG



Begitulah, aku selalu menyanjungmu seperti halnya seorang murid menyapa gurunya. Dengan penuh rasa sopan, murid tersebut menyapa guru yang kebetulan berpapasan dengannya. Meski dengan malu, meski dengan suara yang sangat pelan, dan senyum yang kaku dengan harapan akan dibalas oleh senyum ramah gurunya.

Begitulah, aku selalu menyanjungmu seperti halnya seorang cucu yang akan berkunjung ke rumah kakek dan neneknya ketika Lebaran tiba. Dengan langkah malu-malu sang cucu akan mengecup kakek neneknya meski dalam pikiran polosnya, ia inginkan uang Lebaran. Dan kakek neneknya pun akan memeluk sambil menyisipkan beberapa lembar uang ke saku bajunya.

Begitulah, aku selalu menyanjungmu seperti halnya burung kakaktua menyanjung tuannya. Meski tidak tahu makna dari kalimat yang diucapkannya, burung tersebut telah terkonsep untuk selalu ucap sapa setiap kali tuannya datang. Dan tuannya pun akan mengelus jambul si kakaktua dengan penuh perasaan sayang.

Begitulah yang terjadi, dalam dunia akan terus berputar terus lakukan hal-hal menakjubkan tanpa henti.




sumber gambar :silakan ke sini

Friday, 1 June 2012

SEBELUM AKU MATI! (Dokumentasi tentang Permainan Tradisional Indonesia)


Indonesia adalah negara dengan warisan kebudayaannya yang beragam dan meliputi banyak hal, salah satunya adalah bentuk-bentuk permainan tradisional. Pada zaman dahulu, permainan tradisional ini marak dimainkan oleh anak-anak ketika mereka bermain di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, bertahun-tahun ke belakang ini, permainan tradisional tersebut kini mulai ditinggalkan dan sulit untuk mencari anak-anak yang bermain permainan tersebut. Faktor yang menyebabkan sulitnya permainan tradisional untuk bertahan adalah masuknya wahana permainan-permainan yang “modern” dan canggih ke negara kita.
Anak-anak mungkin sudah memilih untuk bermain game di play station atau komputer daripada bermain Benteng-bentengan. Anak perempuan lebih memilih bermain game di handphone mereka ketimbang bermain congklak. Hal inilah yang bisa-bisa membuat permainan tradisional di Indonesia secara perlahan-lahan akan tenggelam dan punah sama sekali. Padahal, kenyataannya bermain permainan tradisional memiliki banyak manfaat yang salah satunya adalah membentuk karakter dari anak itu sendiri.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, masuknya arus globalisasi adalah pemicu utama mengapa permainan tradisional jarang untuk kembali dimainkan oleh anak-anak. Mereka telah “dibuai” oleh permainan elektronik yang lebih canggih, sehingga anak-anak lebih memilih duduk berlama-lama di depan gadget mereka daripada berlari-lari di lapangan terbuka.

Permainan tradisional adalah warisan budaya Indonesia yang barangkali tidak semua rakyat menyadari akan pentingnya mempertahankan keberadaannya. Kesadaran adalah hal yang utama untuk bisa mempertahankan keberadaannya.  Kita harus sadar, sebagai bangsa yang berbudaya dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang kita, bahwa permainan tradisional pun merupakan warisan dari kebudayaan asli Indonesia yang keberadannya juga perlu untuk dipertahankan dan dilestarikan khususnya oleh generasi muda. Bila tidak ada kesadaran dan kemauan untuk bergerak, maka tunggu saja suatu waktu dimana permainan tradisional sudah tidak dianggap lagi di negeri ini.