Saturday, 8 December 2012

KISAH CINTA TENTANG KISAH CINTA

Marilah akan kuceritakan sebuah kisah cinta tentang pengorbanan. Seorang lelaki sangat mencintai kekasihnya yang buta. Kemanapun kekasihnya melangkah, lelaki tersebut menjadi mata bagi langkah kekasihnya. Setiap saat, setiap waktu, setiap langkah yang selalu tertoreh jejaknya. Lelaki tersebut sangat mencintai kekasihnya, begitu pula kekasihnya. Meskipun buta, ia membayangkan bahwa lelaki yang mencintainya itu lebih indah dari lelaki-lelaki lain yang ada di seluruh dunia.

Suatu hari, kekasihnya sempat berkata kepada sang lelaki, "Aku ingin menikahimu apabila ada yang sudi mendonorkan matanya untukku," ujarnya. Betapa bahagianya perasaan si lelaki. Ia pun pergi ke beberapa rumah sakit, mencari pendonor yang mau mendonorkan matanya. Namun, ia tidak juga menemukan calon pendonor. Lelaki itu putus asa. Ia ingin menikah dengan kekasih yang sangat dicintainya.

Beberapa hari kemudian, kekasihnya mendengar kabar bahwa ada orang yang mau mendonorkan matanya.. Betapa bahagianya ia. Tanpa berpikir panjang, ia pun menerima mata tersebut. Beberapa saat kemudian, ia bisa melihat dunia untuk pertama kalinya. Bahagia.

Ia pun mencari lelakinya. Ia ingin mengabulkan janjinya dulu. Ditemuinya kekasihnya. Ia terkejut, kekasihnya adalah orang buta! Ia menangis sejadi-jadinya. Ia berlari keluar rumah sakit, menjauhi harapan-harapan indah yang selama ini telah dibuatnya. Ia tidak mau menerima kenyataan tersebut.

Beberapa hari kemudian, ia enggan untuk menghubungi lelaki tersebut. Lelaki yang tidak ia ketahui telah mengorbankan dunianya, harta yang paling berharga di dunia ini. Ia pun memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain yang lebih gagah dan tentunya punya mata yang sempurna. Menjelang pernikahannya, sepucuk surat ia terima. Surat dari lelaki yang mencintainya dulu. Isinya sangat singkat.

"Take care of my eyes, Dear"



Bandung, 08 Agustus 2012

Sunday, 25 November 2012

AKU INGIN



Aku ingin bercerita, sebentar saja. Tentang kenangan yang selalu hadir menemani senja. Lalu raut mukamu yang teduh selalu terbayang ketika malam mulai mengheningkan suasana. Aku ingin jatuh cinta, tapi tidak pada pandangan pertama. Aku ingin jatuh cinta, pada suaramu yang menyanyikan lagu kesukaanku.

Aku ingin bercerita, sebentar saja. Tentang suara yang tak lekang termakan usia. Waktu merambat pelan seperti kura-kura, namun perlahan ia tajam menusuk dan menghanyutkan sebuah pertemuan. “Aku ingin bertemu denganmu sebentar saja, setelah itu kau boleh pergi dan tak kembali.” Hilang. Seperti angin yang tidak pernah singgah barang sebentar.

Aku ingin bercerita, tentang malam yang mengendapkan lara. Sudah berapa lama aku melihatmu di setiap mimpiku? Nyanyian seindah padang eidelweis. Sukma meracau memanggil namamu. Perlahan, pertemuan itu akan susah untuk kita ulangi. “Sebentar saja, jangan biarkan waktu membawamu pergi.” Tapi, kutahu waktu seperti kereta yang terus melaju menuju tujuannya. Membawamu pergi seperti air yang menghanyutkan perahu kertasku.

Aku ingin bercerita dalam tangis yang takterbendung lagi. Tentang indah semesta yang selalu kau ingatkan. “Ini dunia adalah tempat cita-citamu. Jangan pernah sesali kau terlahir menjadi perempuan!” Hujan perlahan menghapus suaramu. Hilang dalam gemuruh langit. Terlarung dalam aliran air. Menguap ketika matahari kembali muncul di permukaan cakrawala.

Aku ingin bercerita, sebentar saja. Sebelum kau terlelap dan lupa kepadaku.

Tuesday, 13 November 2012

Kisah Kecil Tentang Surga


*untuk jiwa-jiwa kecil penghuni surga

I
Aku telah menjadi kunang-kunang di surga, Bu. Setelah kau membuangku beberapa jam setelah aku melihat dunia. Aku tak pernah tahu bahwa dunia itu indah, Bu. Aku hanya tahu dunia itu indah lewat bisikan dan tawa yang sempat kudengar ketika aku masih berada di dalam kandungan.

Ibu, surga yang kini kudiami bagaikan senja yang selalu mempercantik dunia. Bahkan lebih indah dari lempengan emas yang menjadi primadona manusia. Di sini, penghuninya penuh dengan cahaya, harum dan bersih. Tidak ada kesedihan, sebab kesedihan hanya ada di dunia. Tempat dimana dulu kulihat kau hanyut dalam kesedihan yang lara.

“Melinda, maafkan Ibu ya?”

Friday, 21 September 2012

Ada yang Hilang Saat Senja Tiba




Setiap senja tiba, ibu selalu duduk di beranda rumah. Mengamati bunga-bunga yang tumbuh subur di halaman rumah. Orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah selalu menyapanya dan ibu pun akan membalas sapaan mereka sambil tersenyum. Manis sekali. Terkadang ibu pun mengamati anak-anak yang berlarian di pematang sawah, beberapa meter di hadapan rumahku. Ada yang mengejar layangan, atau bermain kucing-kucingan.

Langit senja berwarna jingga. Matahari yang bulat membara seakan sudah tahu bahwa setiap kali senja tiba, ibu akan selalu menyambutnya layaknya tamu karib yang lama tidak berjumpa.

Tuesday, 4 September 2012

Kisah Perempuan yang Menunggu di Stasiun Jatinegara


Selalu ada kesedihan, kesepian, dan wanita yang menunggu setiap kali aku berada di stasiun ini. Berjuta kenangan seakan terurai ketika bunyi kereta memasuki stasiun dan orang-orang berdiri menanti kereta yang akan membawanya pulang.

Aku masih tetap dengan lamunanku, menikmati senja yang sendu yang tersembunyi di sela-sela pilar stasiun. Kereta datang dan pergi, membawa manusia mencapai tujuannya. Namun, adakah kereta yang khusus membawa manusia menuju Tujuan Abadi? Kuharap dongeng tentang sebuah kereta senja yang khusus membawa manusia menuju ke Negeri Senja, sebuah negeri dimana senja tidak pernah hilang dan ketika kau berkunjung ke sana kau tidak akan pernah kembali lagi ke tempat asalmu itu benar-benar ada.