Saturday, 17 December 2011

STASIUN KECIL


STASIUN KECIL
*oleh-oleh untuk calon istri


Di stasiun kecil ini kunanti kereta yang akan membawaku pulang malam ini. Pulang menuju kota tempat kita selalu bertemu, berjalan-jalan, dan bertamasya bersama. Sambil menunggu kereta, kunyalakan rokok dan kunanti hal-hal yang serba mungkin ketika kelak kita bertemu. Sebab, rindu dan kenangan selalu tiba-tiba muncul manakala kita selalu menghadirkan kemungkinan-kemungkinan yang terlukis dalam imajinasi.
Sejauh apakah rel ini menghubungkan aku denganmu? Perjalanan yang tidak akan pernah berakhir, rembulan yang tertutup kelabu, dan deru kereta memecah kesunyian malam. Aku sengaja pulang malam agar tidak mengagetkanmu. Aku takut ketika aku memberi kabar kepulanganku, kau akan buru-buru pergi ke pasar, membeli bahan-bahan untuk dimasak menjadi makanan kesukaanku, merapikan rumah, mengganti sprei, dan pekerjaan lainnya. Aku taksuka hal-hal yang berbau istimewa. Aku suka kesederhanaan, cukup dengan mengetuk pintu rumah dan kau akan membukanya. Betapa terkejut dan bahagianya kau melihat siapa yang mengetuk pintu rumah malam-malam begini. Lalu, kau pun akan memelukku. Aku lebih suka disambut dengan kehangatan seperti itu.
Malam semakin beranjak tua, tetapi kereta belum kunjung tiba. Hanya akulah penumpang yang naik dari stasiun ini. Selebihnya kesunyian. Hanya aku dan rasa rinduku padamu, menemani kesunyianku seperti kau yang selalu menemani malam-malamku. Seperti benih-benih anak kita yang kelak hadir melalui rahimmu. Rasa rindu itu adalah kebahagiaan terindah dan sanggup mengalahkan segala kesunyian yang selalu tiba-tiba muncul dimanapun dan kapanpun. Kulihat peron, petugas stasiun terkantuk-kantuk menunggu kereta datang, tangannya siap membunyikan lonceng ketika sinyal memberitahu kedatangan kereta. Apakah ia akan tetap membunyikan lonceng ketika sinyal yang masuk bukanlah sinyal kedatangan kereta, melainkan sinyal kematian?
Ah, istriku. Seandainya kau ada di sini, tentunya aku tidak akan sendiri. Meskipun kau pasti akan tertidur entah di bahuku atau di pahaku, tetap saja hatimu selalu berbicara. Matamu terpejam dan hatimu berbicara tentang masa depan dan anak-anak yang akan mengisi hari-hari kita nanti. Bukan tubuh kita yang terikat oleh perkawinan, akan tetapi hati kitalah yang terikat oleh perkawinan. Bila usia kita sudah renta atau barangkali maut menjemput kita sebelum tua, kita tidak akan berpisah. Hati kita akan tetap menyatu dengan ikatan yang tidak akan pernah bisa dibuka oleh siapa pun. Aku memilihmu bukan karena kecantikan, tetapi karena Tuhan telah menanamkan sebagian takdirku di balik matamu. Dan aku harus menjemput sebagian dari takdir kehidupanku itu padamu.
Kita terpisah, tetapi relakah aku ketika aku memutuskan untuk pergi bekerja mencari penghasilan yang baik? Kau mengantarku dengan air mata di stasiun itu dan kini kuharap bukan lagi air mata yang kuterima, tetapi senyum yang mengembang seperti bunga yang baru mekar setelah lama menguncup. Aku telah membawa sedikit rezeki untukmu sayang, untuk calon anak-anak kita dan untuk kehidupan kita menuju renta. Kau pun bisa membeli baju yang kau inginkan, baju untuk anak-anak mungil kita, popok, dan makanan yang lezat. Kita menjadi keluarga kecil yang bahagia, dengan rumah sederhana dan halaman yang asri. Akan kita isi dengan setangkai kebahagiaan yang selalu merona di setiap sudut di rumah kita, selain mawar-mawar yang kau tanam dan selalu kau siram ketika senja.
Anak-anak berlarian di halaman, bermain bola, bermain dengan kita sambil tertawa tanpa beban. Semoga kelak mereka menjadi cahaya dalam kubur kita, menjadi pelindung kala raga telah renta dan lemah, menjadi penopang ketika langkah sudah goyah seperti waktu kita menopang langkah goyah mereka sewaktu bayi.
Pernikahan bukanlah sebatas upacara. Ia akan menjadi pedoman kehidupan kita hingga ajal menjemput. Setidaknya, kau dan aku akan membina kehidupan bersama, menanam masa depan dan impian yang sering kita ucapkan di masa muda. Melangkah bersama dalam bukit terjal kehidupan. Aku menggandengmu menuju puncak, dan sesekali kau pun membopongku kala aku kelelahan. Menjadi cahaya dalam kabut. Menjadi tonggak yang kokoh ketika angin puyuh memorak-porandakan bahtera. Dan ketika kita telah sampai di puncak, kau dan aku tegak berdiri laksana mentari yang baru muncul di ufuk timur, memandang jutaan kenangan yang tampak berseri dan mekar seindah eidelwis. Dan pernikahan, mutiaraku, kata itulah yang membuatmu tergetar, yang membuatmu berbinar, yang membuat pipimu merona, yang membuatmu tersenyum penuh bahagia ketika pertama kali kuucap dari mulutku.
Kereta malam pun akhirnya muncul dari barat. Lampu pantograf yang memantul di kaca stasiun membuat perasaanku menjadi rawan. Betapa tidak, sudah lama aku meninggalkanmu, tentunya banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu sebelum aku kembali lagi ke stasiun kecil ini. Stasiun di antara jejeran bukit-bukit meninggi dan hutan-hutan yang muram. Selalu ada air mata yang keluar setiap kali aku berada di sini, entah pergi untuk bertemu denganmu atau ketika kembali dari kotamu. Sebab, aku ingin membawamu ke stasiun kecil ini dan memandang bersama gugusan bukit-bukit pemalu itu. Siapa tahu kau akan merekamnya dalam kenangan, dan stasiun kecil ini akan semakin berharga bila ia telah ada dalam ingatanmu.
Kunaiki kereta yang akan membawaku menuju kotamu ini. Ada rasa rindu bercampur takut untuk bertemu denganmu. Rindu karena aku sudah lama tidak bertemu denganmu, dan takut karena bisa jadi pertemuan kita hanyalah singkat belaka. Kereta melaju pelan sebelum akhirnya hilang ditelan malam. Sejauh apakah cinta bisa menghangatkan pertemuan kita? Secepat apakah laju kereta ini sebelum ia dikalahkan oleh laju maut?
 Istriku, wanita cantik semanis madu…
Aku pulang, tanpa membawa apa-apa. Namun, aku membawa segudang cerita untuk aku ceritakan nanti padamu, dan nanti pada anak-anak kita di masa depan. Sebuah cerita tentang bagaimana stasiun kecil ini menjadi saksi bisu akan kerinduanku yang sangat mendalam kepadamu. Di sini, di kota yang takpernah terjamah waktu.



Bandung, 27 November 2011
dengan ingatan yang kuat kepada Stasiun Rendeh, Purwakarta

Jenang Gulo*)


Jenang gulo, kowe ojo lali marang aku iki yo kangmas
Nalikane nandang susah sopo sing ngancani…

Bambang menatap jendela kaca. Kereta yang ia tumpangi sudah sampai di daerah Tegal. Berarti beberapa jam lagi, bila tak ada halangan, ia akan sampai di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Sudah lama ia meninggalkan kampung halaman, meninggalkan keluarga, juga meninggalkan Asih—istrinya yang tercinta—pergi mengadu nasib di Jakarta. Sepuluh tahun lamanya ia mengejar sesuatu yang selalu dicita-citakan oleh banyak orang yakni kesuksesan dan kekayaan. Baginya, Jakarta adalah tempat untuk mewujudkan impian tersebut. Sepuluh tahun lamanya.
Sudah sepuluh tahun, sudah sepuluh tahun ia meninggalkan Asih dan hanya satu kali saja ia sempat menemui istrinya tersebut. Ia mengingat-ngingat, terakhir kali ia menemui istrinya tersebut sewaktu Lebaran lima tahun yang lalu. Dan pertemuan yang selalu diharapkan oleh Asih dengan penuh keharuan dan kerinduan tersebut tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan Asih selama ini. Bambang ingat, bagaimana ketika pertemuan tersebut hanya menghasilkan sebuah luka yang dalam bagi Asih. Luka yang harus Asih terima atas kesetiaannya menunggunya selama lima tahun. Bambang masih mengingat kejadian itu. Bambang masih ingat bagaimana perlakuannya terhadap Asih kala itu.
Malam semakin beranjak malam. Perjalanan ini dirasakannya penuh dengan perasaan rawan. Kereta api terus melaju menuju Yogya, semakin dekat dengan tujuannya semakin takut pula Bambang untuk bertemu dengan Asih. Asih yang mencintainya, Asih yang merindukannya, Asih istrinya yang paling setia. Akh, seandainya lima tahun yang lalu ia bisa membahagiakan Asih dengan pertemuan yang teramat singkat tersebut, tentu Asih akan berbahagia sekali. Namun, Bambang seakan sudah berubah bukan lagi Bambang yang dulu. Lima tahun yang lalu, ketika Bambang sudah berhasil menjadi orang kaya dan sukses, ia lupa akan semuanya. Ia lupa bahwa Asih begitu tulus mencintainya. Dan kedatangannya lima tahun yang lalu ke hadapan Asih tidak lain hanya untuk menceraikannya. Ia sudah tidak sudi beristri seorang perempuan dusun. Hatinya gelap. Rasa cintanya hilang sama sekali semenjak ia bertemu dengan Frida di Jakarta.
Kini, lima tahun berselang Bambang kembali kehilangan segalanya. Frida, wanita kaya pemilik perusahaan developer, justru memanfaatkan kekayaan Bambang untuk menambah kekayaannya. Setelah Bambang jatuh, perusahaan yang ia pimpin bangkrut dan Frida meninggalkannya begitu saja, ia kembali teringat Asih. Hanya butuh waktu sepuluh tahun saja untuk mengubah keadaan, dari miskin menjadi kaya lalu kembali miskin lagi. Ia begitu bersalah terhadap Asih. Sangat bersalah.
***
Dhek semono aku tetep setyo serta tetep tresno yo kangmas.
Durung nate gawe gelo lan gawe kuciwo

Asih bimbang. Bambang akan kembali dari Jakarta. Entah apa yang kini hendak diperbuatnya. Ia masih ingat, lima tahun yang lalu Bambang telah berubah. Bambang, lelaki lugu yang selalu ia temui di sawah berpeluh keringat dan kulit yang legam, adalah lelaki yang sanggup merebut hatinya. Asih takhabis pikir, apa yang telah diperbuat oleh Jakarta sehingga Bambang yang dicintainya menjadi berubah seperti itu? Seperti apakah rupa Jakarta itu? Pikir Asih.
Lima tahun yang lalu Asih begitu setia menunggu Bambang kembali. Baru menginjak sebulan usia perkawinan mereka, Bambang memutuskan untuk merantau ke Jakarta demi menjadi orang kaya. Sebenarnya ia takingin lelakinya tersebut pergi ke Jakarta. Bahkan ia berniat untuk ikut bersama Bambang namun Bambang menolaknya. Betapa terbebaninya Asih ketika suaminya memutuskan pergi tanpa mengajaknya dan entah sampai kapan Bambang kembali lagi padanya. Ia ingat perkataan Bambang sepuluh tahun lalu yang ia ucapkan di Lempuyangan menjelang malam.
“Cah Ayu, Mas pergi bukan untuk meninggalkanmu, tetapi demi kebahagiaan kita selamanya.”
“Kangmas tidak bahagia bersama Asih di desa?”
“Mas bukan tidak bahagia, mas hanya ingin mengubah hidup saja.”
“Di desa pun kita bisa mengubah hidup kita, mas.”
Bambang tersenyum.
“Aku ingin mencari kebahagiaan kita di kota.”
“Tapi Kangmas…”
“Asih, istriku,” Bambang membelai kepala Asih, “percayalah, aku akan kembali lagi padamu dan kita akan hidup kaya, percayalah pada mas.”
“Kangmas..”
Belum sempat Asih berkata kembali, Bambang harus segera menaiki kereta. Asih hanya bisa melihat Bambang dari kaca jendela dengan linangan air mata. Bambang sempat memberikan kecupan hangat di keningnya sebelum ia pergi menuju barat. Dan Asih pun sempat memberikan sebuah tasbih untuk Bambang agar ia selalu ingat Allah dan dirinya.
Asih yang lugu, Asih yang sendu.
Kecantikannya takkan memudar meski wajahnya selalu pucat selama sepuluh tahun. Sudah sepuluh tahun, sudah sepuluh tahun rasa rindu itu takkan sirna dari hatinya meski lima tahun lalu Bambang berniat menceraikannya tanpa alasan yang jelas. Namun bagi Asih, cinta yang tulus adalah cinta yang selalu terjaga dan tidak akan pernah lekang sampai kapan pun. Cintanya telah utuh menjadi milik Bambang meski ia tahu Bambang telah berusaha membuang cintanya tersebut lima tahun yang lalu. Ia tidak tahu dimana Bambang hendak membuangnya, entah di tong sampah Lempuyangan, di kloset kereta, di Wates, di Brebes, di Cirebon, atau pun di Jatinegara. Ia takkan pernah tahu. Yang ia tahu hanya Bambang dan cintanya. Dan mungkin cintanya itu akan ia bawa mati.
***

Ning saiki bareng mukti kowe kok njur malah lali marang  aku
Sithik-sithik mesti nesu terus ngajak padu
Jo ngono… jo ngono…

 Gunung Kidul, malam Lebaran lima tahun yang lalu…
Betapa bahagia Asih mendengar kabar bahwa Bambang akan pulang Lebaran ini. Sudah empat kali lebaran Syawal ia hadapi tanpa kehadiran Bambang, suaminya. Sudah ia siapkan pakaian yang indah, ketupat sayur dan sambal goreng ati kesukaan Bambang, kamarnya yang juga telah ia bersihkan. Ia ingin merasakan lagi kehangatan Bambang yang sudah lima tahun tidak ia rasakan. Ia dengar pula bahwa Bambang kini sudah menjadi direktur. Secepat itukah Bambang bisa menjadi direktur? Allah memang penuh dengan misteri. Bambang, lelaki desa yang tidak punya apa-apa ternyata bisa menjadi direktur. Impiannya telah menjadi kenyataan, dan sudah saatnya Asih menjemput kenyataan tersebut dari Bambang.
Sengaja ia jemput Bambang di stasiun Tugu—kali ini ia naik kereta eksekutif—dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Ia sudah merancang bagaimana pertemuannya dengan Bambang kelak, tentu dengan kehangatan sebagai seorang istri yang setia.
Sampai di Tugu ia bingung, begitu banyak lajur kereta di sini. Harus ia tunggu di jalur mana? Asih belum pernah ke stasiun Tugu, ia hanya pernah ke stasiun Lempuyangan. Tentunya stasiun Tugu lebih besar dari Lempuyangan. Untuk pertama kalinya itulah Asih yang lugu mondar mandir di stasiun Tugu mencari kereta Bambang dengan penuh pengharapan.
Ketika terdengar olehnya pengumuman bahwa kereta dari Jakarta akan masuk ke jalur tiga, buru-buru ia mendekati jalur tiga. Ia takingin Bambang sampai tidak melihatnya. Begitu banyak orang yang turun, begitu banyak barang, dan begitu banyak kuli angkut yang menawarkan jasa sehingga pandangannya menjadi terhalang. Asih gugup, khawatir kalau Bambang tidak melihatnya. Di manakah Bambang?
Akhirnya pandangannya menangkap sosok Bambang yang turun dari gerbong ketiga. Sosoknya telah berubah kini, tidak lagi memakai kaos belel dan celana sobek. Bambang yang ia lihat kini sudah memakai kemeja dan pantalon. Sepatunya pun hitam mengilap. Rambutnya disisir rapi dan di tangannya terlihat jam tangan emas. Alangkah gagahnya Bambang sekarang, pikir Asih. Buru-buru dihampirinya Bambang.
“Kangmas Bambang,” sapa Asih lembut.
Bambang terkejut melihat istrinya menjemputnya di Tugu.
“Kenapa kamu jemput aku di sini, Asih?” tanya Bambang gusar.
“Aku ingin melihat Kangmas secepatnya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Kangmas.”
“Kan di rumah bisa?”
“Aku wis ndak sabar tho Kangmas,” Asih tersenyum malu.
Dengan pandangan tidak suka Bambang berkata.
“Ya sudah, bawakan koper aku!”
Asih pun membawa koper Bambang dengan bahagia. Inilah kali pertama setelah lima tahun bertemu lagi dengan Bambang suaminya. Mereka berdua meninggalkan stasiun dan Bambang memanggil sebuah taksi. Dalam perjalanan pulang Asih menanyai beribu pertanyaan padanya.
“Kangmas gimana tho di Jakarta, betah?”
“Kangmas sudah jadi orang gede. Asih bahagia sekali!”
“Oiya, Kangmas jadi apa di sana? Katanya jadi direktur?”
“Kangmas, aku sudah siapkan makanan enak untuk Kangmas di rumah. Pasti Kangmas suka,” ujar Asih berturut-turut.
Bambang hanya diam saja dengan pandangannya sedari tadi ke luar jendela.
“Kangmas diam saja tho? Kenapa?” tanya Asih sambil memgang bahu Bambang.
“Diam!! Aku capek tahu! Jangan kasih aku pertanyaan yang takpenting seperti itu!!” hardik Bambang.
Asih diam. Ia ingin menangis namun segera ia tahan karena mungkin ucapan Bambang benar. Perjalanan Jakarta-Yogya bukanlah sebentar. Dan Asih yang lugu pun terdiam dengan rasa keterkejutannya atas sikap Bambang yang keras tadi.
Sesampainya di rumah, Bambang seakan risih kembali lagi ke rumahnya yang dulu. Meskipun saat itu ialah saat Idul Fitri, Bambang tetap bersifat angkuh. Keangkuhannya tersebut menjadikan Asih sebagai sasarannya. Ia takubahnya pembantu bagi Bambang sekarang.
“Asih, buatkan aku kopi!” teriak Bambang.
Maka Asih pun segera ngeloyor ke dapur dan membuatkan segelas kopi untuk Bambang tercinta.
Malam menjelang. Burung hantu terdengar di kegelapan malam. Mereka berdua tidur di kamar. Inilah saatnya bagi Asih untuk merasakan kembali kehangatan Bambang setelah lima tahun berlalu. Namun, Bambang sudah bukan lagi Bambang yang dulu.
“Kau kira aku sudi tidur denganmu lagi malam ini?” teriak Bambang ketika Asih memintanya tidur.
Asih yang lugu, Asih yang sendu. Ia hanya bisa menangis mendengar perkataan tersebut.
“Asal kau tahu! Aku kembali ke sini bukan untuk menemuimu! Aku cuma ingin bawa barang-barang dan bilang padamu kalau…”
“Kalau apa kangmas?” potong Asih.
“Jangan seenaknya memotong! Tidak tahu sopan santun!”
Asih terdiam. Pucat pasi.
“Ya, aku ke sini cuma mau bilang kalau aku akan menceraikanmu sekarang! Malam ini kau sudah bukan istriku lagi!”
Terkejut Asih mendengar ucapan Bambang. Jantungnya serasa berhenti. Inikah hasil dari kesetiaannya selama ini? Oladalah, Asih takbisa menerima perkataan Bambang.
“Kenapa kangmas menceraikan aku?” tanya Asih lirih.
“Aku sudah jadi orang besar Sih, masa iya istriku orang kampung? Malu aku!”
Asih takbisa menutupi kesedihannya. Ia hanya bisa menangis dan takpunya daya untuk melawan kehendak Bambang. Lima tahun ia menunggu Bambang kembali, namun bukan untuk dicerai. Ia telanjur cinta terhadap Bambang. Ia tidak ingin berpisah dengan Bambang. Ia tidak ingin dicerai dari Bambang. Ia ingin selalu hidup bersama Bambang, susah atau pun bahagia, meski Bambang kini bukan lagi Bambang yang dulu ia kenal. Sekali Bambang tetap Bambang. Selalu bersama Bambang, meski mati sekali pun…
***
Opo kowe pancen ra kelingan jamane dek biyan yo kangmas
Kowe janji bungah susah padha dilakoni

Kereta api ekonomi tiba di Lempuyangan. Malam semakin beranjak akhir. Bambang keluar dari stasiun dan menyalakan sebatang rokok. Alangkah dinginnya malam. Bambang ingat dulu lima tahun yang lalu ketika ia pulang ke Yogya ada Asih yang menjemputnya. Namun, kini Asih tak kunjung datang. Baru ia sadari betapa besar cinta Asih padanya. Alangkah sunyinya kehidupan Bambang tanpa Asih. Di kota ini, hanya Asihlah wanita yang setia kepadanya. Namun, akh… lima tahun yang lalu…
Bayangan Asih yang begitu kuat menghantui pikiran Bambang akhir-akhir ini. Bayangan tersebut tidak pernah hilang dan terus menghantui kemana pun Bambang melangkah. Setelah harta kekayaan dan jabatannya habis diambil Frida, ia takpunya kekuatan lagi untuk bisa bertahan. Dan wajah Asih yang belum sempat ia ceraikan karena sibuknya pekerjaan Bambang kembali hadir. Asih yang cantik, Asih yang lembut, Asih yang sendu. Seandainya lima tahun kemarin ia bisa membahagiakan Asih, tentu ia tidak akan setakut ini.
Sepanjang perjalanan menuju Gunung Kidul, takhenti-hentinya bayangan Asih yang cantik menghantui pikirannya. Apa yang dilihat adalah sosok Asih. Asih…Asih…Asih… ia terus memanggil dalam batinnya, “maafkan aku Asih,” teriaknya dalam hati.
Dua jam kemudian ia sampai di desanya. Begitu asing kini desa tersebut baginya seakan desa tersebut belum pernah ia tinggali sebelumnya. Sampai di rumahnya ia bingung, banyak sekali orang berkerumun. Orang tua Asih terlihat menangis tersedu-sedu. Ada gerangan apakah yang menyebabkan kedua orang tuanya menangis tersedu-sedu seperti itu?
Banyak sekali orang-orang menyebut nama Asih dengan penuh keharuan. Ia bertanya pada Waluyo, tetangganya yang saat itu muncul di hadapannya sambil membawa batang pisang.
“Asih sudah meninggal tengah malam tadi,” katanya dengan suara lirih pada Bambang.



Bandung, 22 Januari 2011, 20.34
Dengan ingatan yang kuat kepada Yogyakarta










*) Judul dan semua lirik berbahasa Jawa dalam cerpen ini diambil dari lagu campursari Jenang Gulo.

Surat dari Alaska


Setiap kali melihat arakan awan, Savi selalu teringat pada Dewa, kekasihnya. Ia seakan melihat wajah Dewa tersenyum di antara arakan awan seperti itu. Langit biru, awan putih. Cakrawala yang tenang dan takpernah susut. Gumpalan awan putih yang menyerupai padang salju di Kutub, segalanya putih dan akan selalu menjadi putih. Dewa, lelaki yang ia cintai kini terpisah jauh darinya. Ia tahu, ia sangat kehilangan sosok kekasihnya itu dalam hidupnya semenjak Dewa memutuskan untuk merantau ke Alaska.
“Savi sayang, izinkan aku untuk pergi ke Alaska,” ucap Dewa tempo hari.
Savi tertawa. Dikiranya ucapan Dewa hanya sekadar lelucon saja.
“Kau lucu sayang,” jawabnya.
Namun Savi sadar ada sesuatu yang lain di mata kekasihnya itu. Entah kenapa sorot mata Dewa terlihat serius.
“Aku serius Savi sayang.”
“Kau mau apa pergi ke sana?”
“Aku ingin melihat salju. Aku ingin melihat padang salju.”
“Kau ingin menjadi orang Eskimo?”
“Ya, aku ingin merasakan bagaimana hidup di antara dingin dan kebekuan.”
Savi menghela napas.
“Lalu kau akan meninggalkan aku begitu saja?”
“Aku meninggalkanmu juga demi kau Savi sayang.”
“Maksudmu?”
“Aku ke sana mau cari uang.”
“Uang? Kamu mau cari uang di mana? Kamu mau jadi apa di sana?”
Pertanyaan Savi yang bertubi-tubi tidak langsung dijawab oleh Dewa. Dewa terdiam, berpikir. Lama meraka takberbicara satu patah kata pun jua. Setelah agak lama, barulah Dewa angkat bicara.
“Aku mau jadi tukang es lilin di sana,” jawabnya singkat.
Begitulah, Dewa akhirnya berangkat juga ke Alaska. Ia pergi entah naik apa. Kepergiannya mengundang seribusatu pertanyaan dalam diri Savi. Untuk apa kekasihnya pergi ke Alaska hanya untuk jualan es lilin? Siapa yang sudi membeli es di daerah kutub seperti itu? Semoga Dewa belum gila, pikirnya.
Ia begitu mencintai Dewa. Baginya, Dewa adalah lelaki terindah meski Dewa sangat sederhana. Yang penting bagi Savi cinta mampu menguatkan semuanya, tidak hanya materi, tetapi juga kebahagiaan. Dan Savi telah mendapatkan semua kebahagiaan hidupnya bersama Dewa meski terkadang Dewa dipenuhi pikiran-pikran yang aneh seperti yang tadi. Namun baginya, pikiran aneh itu adalah sebuah sindiran. Takheran tiga tahun sudah mereka menjalin hubungan.
Namun kini, sudah dua tahun, ya sudah dua tahun Dewa meninggalkan Savi tanpa ada kabar yang jelas. Sudah dua tahun, ya sudah dua tahun Dewa merantau ke Alaska dan takjelas bagaimana rimbanya. Bagaimana keadaan Dewa di sana, apakah ia jadi menjadi tukang es lilin? Ataukah ia sudah mati kedinginan?
Savi begitu merindukannya. Sudah dua tahun berlalu, dan selama dua tahun itu Savi habiskan dengan mengenang dan membayangkan saja. Ia membayangkan bahwa Alaska segalanya tampak putih cemerlang. Segalanya hanya terhampar padang salju belaka. Ketika ia memandang awan di cakrawala, ia selalu terbayang Alaska. Dan ketika sudah terbayang Alaska, terbayanglah pula bagaimana sosok Dewa di matanya.
Sudah dua tahun, ya sudah dua tahun Savi tenggelam dalam mimpi yang mungkin tidak pernah menjadi nyata. Savi yang cantik, Savi yang sendu, Savi yang malang. Wajahnya makin hari makin murung saja. Taklagi kini ia habiskan setiap senja di antara pematang sawah dan cahaya senja akan menyepuh dirinya bersama Dewa. Begitu indah begitu bercahaya. Sudah dua tahun, ya sudah dua tahun Savi tidak pernah keluar rumah. Yang ia lakukan hanyalah duduk termangu di jendela kamarnya melihat arakan awan sambil terus menanti kedatangan Dewa di hadapannya.
Savi takpernah tahu bahwa selama dua tahun ini pematang sawah yang sering ia datangi bersama Dewa kala senja kini telah berganti menjadi bangunan perumahan yang angkuh. Savi takkan pernah tahu.
Apakah Savi harus tenggelam dalam kematisuriannya? Suatu hari, barangkali merupakan hari yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Savi. Suatu hari datanglah sepucuk surat dari Dewa. Sepucuk surat dari Alaska. Alangkah berbahagianya Savi. Surat itu ia dekap dan ia bawa masuk ke dalam kamarnya. Ketika ia dekap terasalah bagaimana hawa di Alaska. Begitu dingin di tubuh Sari, maklum surat dari kutub. Tanpa pikir panjang lagi ia langsung membuka surat itu dengan hati-hati agar tidak robek. Dilihatnya, di dalam amplop putih yang selalu beku dan dingin itu terdapat satu lembar kertas dan bungkusan. Ternyata Dewa mengirimkan es lilin buatannya juga.
Beginilah nukilan surat Dewa untuk Savi:

Alaska, (aku taktahu ini tanggal berapa)


Savi tercinta,
Untuk pertama kali inilah aku menulis surat untukmu. Surat yang telah lama kau nantikan bukan? Aku taktahu telah berapa lama aku tinggal di Alaska, di sini aku takbisa melihat waktu. Di sini takada waktu. Barangkali aku lupa hitungan waktu. Namun aku takpernah lupa akan dirimu, Savi sayang.
Bagaimana kabarmu? Aku harap kau sehat-sehat saja di sana. Bagaimana kabar desa? Bagaimana kabar pematang sawah, tempat kenangan kita? Aku selalu ingin ke sana lagi bersamamu. Di sini tidak ada pematang sawah. Di sini hanya ada hamparan putih berkilauan, dan matahari sangat jarang bersinar di sini. Hanya hamparan putih, dan semuanya putih. Barangkali aku pun akan segera menjadi putih. Oh iya, kabarku baik selama di sini. Kau pasti bertanya bagaimana aku bisa sampai ke sini? Haha, jika kuceritakan pasti kau takkan percaya. Ya, aku sampai di sini tidak dengan pesawat ataupun kapal ataupun mobil ataupun sesuatu yang bergerak lainnya. Aku bisa sampai sini dengan berenang, Savi. Ya, berenang. Menyusuri samudera Pasifik dengan berenang dan terus berenang. Aku pasti lelah tentunya, namun apakah untuk mencapai sebuah hasrat kita harus kalah oleh rasa lelah? Dengan tegas kukatakan tidak!
Ya, aku berenang menyusuri samudera. Mula-mula dari desa aku menumpang truk ke arah pantai utara. Dan ketika sampai di sana, kubuka bajuku dan aku langsung mencebur ke laut. Aku berenang sekuat tenaga hingga sampailah aku di pulau Kalimantan. Di sana aku beristirahat sejenak dan berenang kembali. Kali ini aku berenang memutari Kalimantan dan nyebrang ke Pulau Sulawesi. Aku singgah di Makassar. Di sana aku kembali istirahat dan kembali melanjutkan perjalananku. Aku kembali berenang hingga sampai di pantai Sulawesi Tengah, aku taktahu nama daerah itu. Yang jelas aku kembali beristirahat di sana. Perjalananku kulanjutkan hingga sampai Menado, kepulauan Sangihe, menyeberang ke kepulauan Mindanao, sampai ke Filiphina, terus lagi berenang hingga singgah di kepulauan kecil di samudera Pasifik. Di sinilah tantanganku dimulai. Derasnya arus samudera hampir saja membuatku mati, namun aku tetap bertahan. Aku terus berenang hingga sampai kepulauan Hawaii. Di Hawaii sejenak aku berpikir, apakah tetap kuteruskan perjalananku ini atau aku tinggal saja di Hawaii? Ternyata aku tetap pada pendirianku semula, mencapai Alaska. Akhirnya kuteruskan lagi perjalananku ke utara, terus ke utara. Laut pun berubah, segalanya berubah, udara berubah, samudera pun berubah. Hawa menjadi dingin tiada terkira. Aku menggigil dan lagi-lagi hampir mati. Namun aku tahu, takdir akan selalu baik, aku tetap melaju sepanjang samudera Arktik dan akhirnya sampai juga di Alaska. Di ujung dunia.
Sesampainya di sini aku segera mencari pakaian. Brrhh, tubuhku lelah dan takkuat lagi menahan hawa dingin. Membuat api pun sangat susah di sini. Kau tahu, butuh waktu yang lama bagiku untuk beradaptasi dengan dinginnya udara Alaska.
Dan kini aku betah tinggal di sini, sayang. Begitu damai, tenteram seperti desa kita. Aku berharap kau pun akan menyusulku dan tinggal di sini. Mungkin nanti aku akan pulang dan menjemputmu seperti janjiku dahulu. Oh iya aku lupa, di sini aku telah sukses menjadi tukang es lilin, sayang. Hahaha. Tidak dapat dipercaya. Mulanya aku bingung apakah aku akan tetap berjualan es di sini sementara hawa begitu dingin. Namun aku takpeduli. Aku ingin mengenalkan es lilin kepada orang-orang Eskimo. Sekali lagi kebingungan datang. Akan aku buat dari apa es tersebut sementara di sini hanya padang salju saja. Dalam kebingungan itu kulihat seekor beruang kutub yang sedang berjalan. Persoalan pun terpecahkan. Kenapa tidak kubuat saja es lilin dari darah beruang itu? Toh soal rasa sama saja, sama-sama beku dan darah pun berwarna merah seperti es-es kebanyakan. Jadi kubunuh beruang itu dan darahnya kuambil. Jadilah es lilin. Kujual dengan harga seribu perak saja. Di luar dugaan orang-orang menikmati esku. Mereka bilang esku enak. Tidak dapat dipercaya. Maka untuk memperbanyak pasokan esku, kubunuh setiap beruang yang ada di sini dan darahnya kuambil. Takterhitung berapa banyak beruang yang telah aku bunuh. Taklupa kukirimkan pula untukmu es lilin darah beruang hasil kerjaku. Cicipilah, kata orang enak kok, segar. Cicipilah.
Savi yang cantik, Savi yang manis.
Rasanya masih banyak yang ingin kuceritakan padamu. Namun aku telah bingung hendak menulis apa di kertas ini, mungkin kucukupkan dulu suratku ini. Kapan-kapan akan kukirimnkan kembali kabarku padamu. Semoga kau takterlalu lama menungguku. Terimalah surat dan sepotong es lilin ini. Baca dan cicipilah, maka kau akan tahu bagaimana besarnya pengorbananku untuk bisa sampai sini. Bila ada waktu, aku akan kembali ke sana dan meminangmu sesuai dengan janjiku dulu padamu.
Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua.

Kekasihmu selalu,

Dewa

NB. Aku selalu sayang, cinta dan kangen kamu.
Hmm… Es lilin dari darah beruang. Entah kenapa Savi begitu ingin mencobanya, tetapi ia ragu karena ini adalah darah. Bagaimana rasanya darah? Ia belum pernah mencobanya. Ia ingat perkataan Dewa bahwa es ini enak. Dengan penuh rasa penasaran ia cicipi es lilin itu…

***
Setahun kemudian surat dari Dewa datang lagi. Surat sebelumnya telah Savi balas yang secara garis besar ia ungkapkan bahwa ia pun kangen padanya dan telah merasakan bagaimana rasa es lilin itu. Ternyata Savi ketagihan. Dan setahun kemudian Dewa kembali mengiriminya surat dan sepotong es lilin.
Demkian bunyinya:
Alaska

Saviku tersayang,
Suratmu dulu telah sampai padaku. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Sudah dua tahun, ya sudah dua tahun aku meninggalkanmu. Mungkin kau sudah tampak dewasa. Aku semakin merindukanmu, sayang. Dan terimakasih kau telah mengirmkan pula fotomu untukku. Akan kusimpan sebagai penyemangat hidupku selama berada di sini.
Soal es lilin itu, aku sangat senang kau menyukainya. Memang kedengarannya menjijikkan, namun jangan lihat sesuatu dari luarnya saja. Kita baru berkata jika kita sudah mencobanya. Dan kau telah mencobanya, enak bukan? Hahaha.
Kau menginginkannya lagi? Baiklah kukirimkan kembali sepotong es lilin sebagai oleh-oleh yang indah dariku. Namun perlu kau tahu, jumlah beruang di sini telah habis aku bunuh semua. Aku bingung, sayang. Populasi beruang kutub telah punah di sini karena semuanya habis kubunuh sementara pesanan es lilinku tetap banyak. Aku bingung, dengan cara apa lagi aku bisa mendapatkan darah? Tiba-tiba ideku kembali muncul. Tebak, dengan cara apa aku bisa membuatnya lagi? Jika kuberitahu kau akan terkejut.
Baiklah, kuberitahu sekarang juga. Es lilin yang kukirim untukmu ini bukan dari darah beruang lagi, melainkan es lilin dari darah manusia. Ya, itu adalah darah orang-orang Eskimo. Aku terpaksa membunuh salah satu dari mereka untuk kuambil darahnya. Awalnya aku juga tidak tega membunuh rekan baruku itu, tapi apa daya pemesanan  terus meningkat, bukan lagi di sekitar Alaska tetapi seluruh dunia memesan es lilinku itu. Terpaksa kubunuh satu persatu dari mereka. Aku sangsi apakah rasa darah mereka sama dengan rasa darah beruang? Ketika kucicipi rasanya hampir sama, malah lebih manis ini sayang. Cobalah lagi, jika kau suka atau tidak suka. Balaslah surat ini segera.
Semoga Tuhan mengampuni kita berdua, Saviku tercinta.

Kekasihmu

Dewa

NB. Di dalam es lilin itu ada cintaku untukmu.
Terkejut Savi membaca surat Dewa yang kedua. Gila! Haruskah Dewa membunuh manusia untuk diambil darahnya dan dibuat es lilin? Di hadapannya, es lilin darah manusia itu begitu merah, begitu pekat, seolah-olah mengajak Savi untuk tergoda dan menyantapnya. Savi sempat jijik lagi melihat es lilin itu, terlebih setelah ia tahu es lilin itu terbuat dari apa. Tapi lama kelamaan air liur Savi menetes. Yeah, ia memang mudah tergoda, apalagi menyangkut soal makanan. Perlahan-lahan diambilnya es lilin yang berwarna pekat merah itu dan secara perlahan-lahan pula ia menyantap es lilin darah manusia tersebut…

***
Setelah melahap habis es lilin itu, barulah Savi membalas surat dari Dewa:

Dewaku yang tersayang,
Suratmu yang kedua telah sampai padaku. Aku harus menunggu lagi setahun untuk mendapatkan suratmu. Apakah membalas surat bagimu harus memakan waktu yang lama? Setahun, dua tahun, tiga tahun, akh aku lupa lagi sudah berapa tahun aku menantimu di sini.
Kubaca sampai habis suratmu dan aku terkejut. Apakah benar yang kau bicarakan itu? Apakah benar es lilinmu itu kini terbuat dari darah manusia? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, sayang? Aku berharap semoga kau masih waras di sana. Aku tidak mau melihatmu membunuh begitu banyak orang hanya untuk es lilin itu. Maaf jika aku lancang berbicara seperti itu, aku kekasihmu! Aku tidak mau kau menjadi pembunuh!
Dewaku yang indah,
Jika aku ingin meminta sesuatu padamu sekarang, bolehkan aku mengutarakannya? Jika kau sayang padaku, kau cinta padaku, kau masih ingin bertemu denganku, maka kembalilah kau ke sini. Pulanglah padaku, pulanglah ke pelukanku. Jangan kau membuat es lilin lagi di sana, jika ternyata kau harus membunuh orang-orang Eskimo untuk kauambil darahnya dan kaubuat es lilin. Pulanglah, lupakan saja bahwa kau harus cari uang di sana. Aku lebih bahagia jika kau hidup melarat tetapi kau bukan seorang pembunuh. Pulanglah, pulanglah…
Semoga Tuhan menyadarkan kita berdua.
Wanitamu

Savitri
NB. Aku sudah menyantap es lilin itu. Aku suka memang, tetapi lebih suka lagi              jika kau berhenti membuatnya.

***
Dua tahun kemudian, surat balasan dari Dewa pun tiba:

Saviku yang selalu indah,
Maaf jika kau harus menunggu terlalu lama untuk membaca balasanku. Sekarang aku sibuk Savi, atau mungkin aku sengaja menyibuk-nyibukkan diri untuk membuatku selalu hangat. Suratmu telah kubaca dan aku paham maksudmu. Namun hanya sekadar paham saja. Aku paham kau begitu mengkhawatirkanku, tetapi apa daya aku telah telanjur berbisnis seperti ini. Pesanan esku selalu banyak setiap harinya, dan kau tahu, kini Alaska penuh dengan kapal yang akan mengekspor es lilinku ke seluruh dunia. Aku kaya raya, Savi! Aku kaya raya! Aku mampu membeli apa yang aku inginkan. Dan kelak jika waktuku senggang aku akan pulang dan menjemputmu dengan pesawat pribadiku, dan kita akan tinggal dengan nyaman di sini.
Mengenai pembunuhan itu, aku sudah telanjur membunuh banyak orang Eskimo di sini. Maafkan aku, jika kau mencapku sebagai pembunuh, silakan. Tetapi aku membunuh untuk mendapatkan uang. Uang, Savi! Uang! Dengan uang kita bisa membeli apa saja. Aku ingin mendapatkan uang di sini sesuai dengan tekadku dulu padamu. Dan kini aku telah dapatkan uang itu meski aku harus membunuh banyak orang Eskimo di sini. Dan lagi-lagi jumlah orang Eskimo semakin berkurang sementara pesanan masih terus datang. Dari mana lagi kuperoleh darah itu?
Saviku,
Aku janji secepatnya aku akan datang menemuimu. Aku akan membawa apa yang kau inginkan. Dan aku akan melamarmu, Savi. Maaf jika kau harus menunggu lama demi lamaranku ini. Tetapi sekarang kau boleh bahagia, karena kini kekasihmu sudah menjadi orang, bukan lagi Dewa yang dulu kau kenal.
Semoga Tuhan selalu menyelamatkan kita.

Lelaki terindahmu

Dewa

NB: Seperti perkataanku di atas, lagi-lagi aku kekurangan darah untuk es lilinku. Kalau boleh Saviku tercinta, aku ingin meminta sesuatu darimu. Bolehkah aku meminta darahmu sedikit saja untuk kujadikan es lilin? Maafkan aku, jika kau berkenan maka kau balas surat ini sambil mengirimkan darahmu. Namun jika tidak, kau tinggal bilang saja.

Savi merobek surat itu dan melemparnya ke luar jendela.
“Gila! Betul-betul Gila!!!” bentaknya.









Langensari-Karanganyar-Bandung, 08 Agustus 2010
10.39