Sunday, 12 February 2012

KEMATIAN




Kematian merupakan misteri yang sampai kapan pun tidak akan pernah diketahui datangnya oleh manusia. Setiap manusia pasti akan menghadapi kematian, ruh terlepas dari jasad dan kehidupan di dunia pun berakhir sudah. Isak tangis kerabat mengantar seseorang ketika kematiannya menjemput. Jerit kehilangan bergema dalam relung-relung kehidupan pasca kematian itu menjemput salah seorang di antara kita.
Tidak ada yang tahu kapan kematian tersebut menjemput kita. Seorang peramal hebat pun belum tentu bisa meramal tentang kematian. Beberapa saat yang lalu kita bertemu dengan seorang kawan. Ia mungkin terlihat sehat dan bugar, namun esoknya terdengar kabar bahwa kawan tersebut sudah meninggal. Sering kan kita mendapati peristiwa seperti itu? Ya, kematian tidak hanya identik dengan usia tua saja. Bila sudah waktunya, tidak peduli tua muda, tidak peduli sehat atau sakit, dan tidak peduli manusia siap atau tidak, kematian dating tepat pada waktunya. Malaikat pencabut nyawa akan mencabut ruh dan membawanya ke alam tempat manusia pertama kali diciptakan.
Kematian bisa terjadi oleh beberapa hal, bisa sakit, kecelakaan, pembunuhan, dan lain-lain. Terlepas dari segi teknis, begitu ajalnya tiba manusia itu akan mati. Manusia tidak bisa menghindari takdir kematiannya. Setakut apa pun manusia membayangkan datangnya kematian, kematian itu akan selalu menjemputnya dengan berbagai cara. Meskipun manusia sudah bersikap hati-hati ketika beraktivitas, atau berusaha melawan ketika ajal tersebut tiba padanya, tetap saja ia tidak bisa melawan garis Tuhan.
Akhir-akhir ini di Indonesia acapkali ditemui peristiwa-peristiwa tentang kematian. Mulai dari kematian artis, kematian akibat pembunuhan, serangan penyakit, bencana alam, atau pun kematian akibat kecelakaan berlalu lintas. Jumat kemarin kita dikejutkan dengan peristiwa tabrakan bus di daerah Puncak yang menewaskan lima belas orang. Belum usai peristiwa tersebut, muncul lagi berita kecelakaan bus di Majalengka yang menewaskan tiga orang. Beberapa saat sebelumnya, bus terjatuh ke jurang di Sumedang dan menewaskan beberapa orang. Sebelumnya lagi peristiwa tabrak lari di bilangan Tugu Tani yang menewaskan sembilan orang. Sebelum-sebelumnya lagi kecelakaan bus “Sumber Kencono” di daerah Jawa Timur, itu pun kurang lebih menewaskan 20 orang.
Kecelakaan adalah salah satu penyumbang angka kematian terbesar di Indonesia. Ketika berada di jalan, kita akan selalu dibayang-bayangi kematian. Meskipun kita sudah menerapkan aturan berkendara yang benar, memakai helm berstiker SNI, dan menjalankan motor dengan kecepatan yang sedang kita pun masih dibayang-bayangi kematian. Ada faktor luar yang bisa saja terjadinya kecelakaan, misalnya tertimpa pohon dan papan reklame yang tumbang, dijambret orang, terjatuh akibat masuk ke lubang yang takkasat mata, atau bahkan menghindari pejalan kaki yang nyebrang seenaknya sehingga mengagetkan pengendara dan tidak mampu mengendalikan kendaraannya, dan masih banyak lagi faktor lainnya. Hal ini membuktikan bahwa berkendara di Indonesia butuh kewaspadaan yang tinggi mengingat masih banyaknya sarana-sarana penunjang transportasi yang “belum aman”.
Tuhan menghadirkan kasus-kasus semacam itu untuk membuat manusia-manusia yang masih hidup membuka matanya. Manusia hidup bukan untuk selamanya, melainkan untuk beberapa saat sampai kematiannya tiba. Kita sering melupakan kematian ketika dunia telah memperdaya kita dengan kebohongan-kebohongannya. Dalam saat apa pun, dalam situasi apa pun kematian itu begitu mudah menjemput kita. Itulah kenapa Tuhan tidak memberitahukan kepada kita tentang kematian itu sendiri, agar kita selalu merasa siap dan ingat tentang kematian. Kita bukan Bhisma, tokoh pewayangan yang dikenal mampu menentukan kapan kematiannya tiba. Bahkan nabi sendiri pun tidak banyak mengetahui perihal kematian. Kita hanya manusia biasa yang diberi akal dan pikiran oleh Tuhan untuk berpikir dan merenungi bahwasanya kehidupan tersebut hanya singkat saja. Kehidupan semacam perjalanan, dan kita hanya singgah saja di muka bumi ini yang bila waktunya tiba kita harus kembali meneruskan perjalanan menuju akhir, yakni surga atau neraka.
Sudah siapkah kita menghadapi datangnya sang ajal?


Bandung, 12 Februari 2012

CITRA




Dalam rimba kata bahasa Indonesia, kita mengenal satu kata citra (bahasa Inggris berarti imagine). Secara umum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, citra memiliki arti rupa atau gambaran. Dalam istilah sastra, citra adalah kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas di dalam sebuah karya. Dalam istilah seni rupa, citra adalah kombinasi antara titik, garis, bidang, dan warna untuk menciptakan suatu imitasi dari suatu objek yang biasanya berupa objek fisik atau manusia. Sementara itu, dalam istilah geografi citra berarti data atau foto yang diambil dari udara yang biasanya digunakan untuk penelitian topografi bentang alam.
Keragaman makna kata citra dalam berbagai bidang pengetahuan dapat diambil satu kesimpulan yang sama, yakni citra adalah gambaran. Namun, meskipun bermakna gambaran, citra tidak bisa disamakan dengan imajinasi, sebab makna gambaran dalam citra bersifat visual tidak imajiner. Wujud yang digambarkan dalam citra berbentuk konkret, berbeda dengan imajinasi yang masih bersifat rancangan.
Takheran, citra pun banyak dipakai untuk mengungkapkan suasana keadaan dan lingkungan yang sedang dibicarakan, misalnya citra perbankan, citra pejabat, citra politik, citra polisi, dan citra wanita. Bahkan, bapak film Indonesia, Usmar Ismail pun menggunakan kata citra sebagai judul film dan nama tokoh wanita yang menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia. Ia menggambarkan seorang wanita sebagai citraan dari bayangan sang fajar. Tokoh yang bernama “Tjitra” digambarkan sebagai tokoh wanita marginal yang gigih berjuang demi menegakkan martabat dirinya. Usmar Ismail mendefinisikan kata citra sebagai bentuk kekuatan di balik keindahan dari nama citra tersebut. Oleh karena itu, ia memakai nama citra sebagai nama tokoh wanita yang menjadi simbol propagandanya Usmar melalui film.
Film tersebut dibuat pada tahun 1949 ketika Usmar berada di dalam penjara. Ia dipenjarakan oleh Belanda gara-gara ia ketahuan menjabat sebagai Mayor tentara. Namun, di dalam penjara ia diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan seni, salah satunya ialah membantu sutradara Andjar Asmara membuat film. Tetap mengacu pada intuisinya, yakni film sebagai alat pengucapan, bersama Andjar Asmara lahirlah film “Tjitra” yang tidak lain adalah untuk mengobarkan semangat bangsa Indonesia untuk merebut kembali hakikat kemerdekaan yang telah diraih empat tahun yang lalu.
Sayang dokumen film tersebut sangat susah sekali didapat. Barangkali untuk mengetahui secara detail isi dan informasi film tersebut kita harus berkunjung ke Pusat Perfilman Usmar Ismail yang berada di Jakarta. Hal ini sangat berbeda dengan film-film Usmar Ismail yang diproduksi di Malaysia. Sampai saat ini dokumentasi film-film Usmar Ismail tersebut masih dijual secara bebas kepada publik dengan kualitas film yang masih baik. Film-film garapan Usmar yang diproduksi dan dijual di Malaysia antara lain Korban Fitnah dan Bajangan di Waktu Fajar dengan produksi rata-rata tahun 1960an, sampai sekarang masih dapat ditemui di pedagang-pedagang film (meskipun secara bajakan). Hal tersebut sungguh menjadi ironi, betapa Indonesia belum bisa menghargai sejarahnya sendiri. Film-film Usmar Ismail (yang diklaim oleh bangsa Indonesia sebagai Bapak Perfilman Nasional) sangat susah ditemui keberadaannya. Kalaupun ada, mungkin kualitas filmnya sudah buruk dimakan usia.
***
Bagaimana dengan citra sebagai gambaran objek yang lain? Di situs wikipedia, kita bisa menemukan artikel tentang kata citra. Artikel tersebut berisi tentang sejarah karya seni mulai dari zaman prasejarah sampai masa kini. Citra yang dimaknai dalam artikel tersebut memang secara khusus bercerita tentang citra sebagai karya seni. Citra dalam seni menggambarkan sebagai wujud dari sebuah objek yang dilihat dari segi visual. Objek yang terlihat secara visual merupakan kombinasi antara titik, garis, bidang, dan warna yang membentuk suatu objek seni yang utuh. Dengan kata lain, citra sebagai wujud suatu karya, atau wujud representasi pemikiran si senimannya.
Citra sebagai gambaran karya seni hampir sama dengan citra dalam benak Usmar Ismail. Ia memiliki kekuatan yang tersembunyi di balik keindahan luarnya. Kekuatan yang sewaktu-waktu bisa muncul ke luar apabila mampu ditangkap oleh penikmatnya. Dalam perspektif seni, citra sebagai gambar adalah bahasa simbol yang ingin dikomunikasikan manusia kepada manusia lainnya. Setiap citra memiliki pesan yang didoktrinkan dalam wujud karya visual. Pesan tersebut tentunya akan ditangkap lain oleh masing-masing orang, sebab setiap orang pasti akan melihat citra tersebut dalam angle yang berbeda-beda.
Seni identik dengan keindahan. Jika dispesifikasikan seni bisa diperspektifkan dengan wanita. Wanita adalah wujud keindahan visual yang melegenda. Keindahan yang terpatri melalui kelembutan dan kecantikan fisik dan rohaninya. Tidak heran jika citra dilekatkan sebagai nama identitas seorang wanita. Sebab, pada hakikatnya wanita selalu berwujud sebagai gambaran. Ia tidak akan habis untuk dikaji dan selalu memunculkan gambaran-gambaran baru.
Citraan seorang wanita dilihat dari bagaimana ia berperilaku selain dari kecantikan fisiknya. Rata-rata orang menganggap seorang wanita disebut cantik bila ia memiliki fisik yang menunjang. Kenyataannya, kecantikan belum mampu menjadi radar dari citraan seorang perempuan. Citraan untuk perempuan tentunya tidak bisa dikotak-kotakkan begitu saja, harus ada kombinasi. Kecantikan fisik akan dikombinasikan dengan kecantikan perilaku dan rohaninya. Kombinasi unsur-unsur tersebut merupakan kombinasi pembentuk citraan yang baik pada diri seorang wanita.
Citra bukan hanya bersifat visual, tetapi ia juga bisa bersifat audio maupun teks. Ketiga-tiganya sama-sama membentuk citra yang masing-masing berdiri sendiri. Visual dalam seni akan membentuk sebuah citraan yang mungkin berbeda bila seni visual tersebut diadaptasi ke dalam bentuk audio atau teks.
Sastra dan seni merupakan citraan dari kehidupan. Kehidupan tidak dapat dipisahkan dari kedua unsur itu. Tanpa kedua unsur tersebut, kehidupan menjadi tanpa makna dan hambar. Sastra mengajarkan kehidupan, dan seni mengajarkan keindahan, keindahan untuk hidup, serta kehidupan untuk keindahan.
***
Bagaimana dengan citra bangsa Indonesia? Sejak dulu bangsa Indonesia sudah dikenal dunia melalui keramahan bangsanya. Mereka bernaung di dalam sebuah payung yang mengatasnamakan payung ketimuran, yang berarti bangsa yang masih terpaku pada norma dan nilai-nilai adat istiadat. Citra yang melekat di bangsa Indonesia memang selalu diidentikkan dengan budaya ketimuran.
Namun, apakah kini bangsa Indonesia masih dipandang memiliki citra ketimuran? Sampai sejauh mana kini timur dan barat memiliki perbedaan dalam segi citraan? Indonesia kini boleh dikata dirasuki oleh asimilasi-asimilasi budaya Barat. Mereka masuk melalui media visual, audio, teks, bahkan dibawa secara langsung dari tanah asalnya. Sedikit demi sedikit nilai-nilai ketimuran itu sendiri menghilang dan terkucil di tanah airnya. Citra ketimuran kini semakin sulit dijumpai dalam perilaku masyarakat Indonesia, apalagi di dalam lingkungan kota-kota besar yang notabene surga berbagai macam hiburan.
Salah satu bagian dari citra ketimuran adalah kejujuran. Namun, kiranya dewasa ini kejujuran merupakan barang langka yang semakin sulit ditemukan keberadaannya. Masyarakat Indonesia selalu dibayang-bayangi oleh kebohongan. Apa pun akan diselipi kebohongan, bahkan hingga makanan pun ditemukan banyak kecurangan-kecurangan.
Indonesia adalah salah satu negara yang paling banyak korupsi. Ya, korupsi menjelma seperti hama tikus yang melumat habis sawah-sawah siap panen. Korupsi di Indonesia bukan hanya marak pada dasawarsa ini, tetapi sudah melekat sejak zaman kolonial dulu. Korupsi adalah salah satu peninggalan penjajahan yang sudah mentradisi dalam kehidupan pribuminya. Ia seakan-akan menjadi kegiatan yang wajib dalam hampir semua struktur pemerintahan ataupun organisasi (saya simpulkan semuanya saja, karena orang jujur itu sendiri memiliki perbandingan satu banding sepuluh dengan orang curang).
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, citra adalah gambaran berdasarkan realitas. Jika realitas bangsa Indonesia sudah demikian terpuruknya, takheran jika kini sedikit demi sedikit makna citra selalu dikaitkan dengan hal-hal yang tidak baik. Citra pejabat memiliki gambaran pejabat adalah wakil rakyat yang suka korupsi, citra polisi di mata masyarakat memiliki gambaran polisi yang suka memeras, tidak mengayomi rakyat, dan lain-lain.
Jika dalam sastra dan seni, citra masih diidentikkan dengan gambaran keindahan, maka citra dalam kehidupan diidentikkan dengan turunnya nilai dari identitas seseorang. Orang akan membahas citra seseorang ketika ia sudah tersangkut kasus yang bisa jadi menurunkan nama baiknya. Orang-orang kaya yang konservatif di negeri ini pasti akan berkata “citra saya turun nanti,” jika ia bergaul dengan orang-orang miskin. Citra sudah bukan lagi membahas estetika, tetapi lebih sering membahas posisi dan identitas dari objek yang dicitrakan.
Bergesernya paham orang-orang mengenai citra bukan sebuah fenomena. Realitas kekinian mau tidak mau turut mengubah cara pandang seseorang. Ia bisa saja menjadi pembunuh meski sebelumnya ia adalah seorang yang alim. Hidup lebih mudah bergulir dewasa ini ketika zaman sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Bagaimana pun, citra merupakan gambaran yang terlihat, terdengar, dan terasa. Seseorang akan memiliki citra positif atau negatif bergantung pada perilaku dari manusia itu sendiri. Manusia akan selalu mudah menilai seseorang, namun manusia selalu tidak bisa menilai diri sendiri. Manusia terlihat kuat, namun di dalamnya ia begitu lemah dan tidak berdaya. Citra yang baik adalah citra yang terlihat lemah dari luar, padahal ia memiliki kekuatan yang tersembunyi dalam kelemahannya.


Bandung, 09 Februari 2012
23.10


BHISMA DAN KEMATIAN


Dalam tokoh pewayangan Mahabhrata kita mengenal tokoh yang bernama Bhisma. Bhisma Dewabharata, titisan dari Wasu Prabhasa, anak Prabu Sentanu dengan Dwi Ganggawati adalah seorang ksatria sekaligus tetua dari Pandawa dengan Kurawa. Tokoh Bhisma ini memegang peranan sebagai penengah antara dua saudara Pandawa dengan Kurawa. Hatinya selalu memihak kepada Pandawa, meskipun selama hidupnya ia bermukim dan menjadi penasihat di Hastinaputra, kerajaan Pandawa yang direbut oleh Kurawa.
Bhisma Dewabharata, atau Jahnawi Suta adalah satu-satunya tokoh wayang yang bisa memilih saat kematiannya sendiri. Hal tersebut merupakan mukjizat yang diberikan para dewa kepadanya atas pengabdiannya yang tulus kepada ayahnya. Syahdan, Prabu Santanu pergi berburu di hutan sekitar Sungai Yamuna. Pertemuannya dengan Dewi Satyawati di tepi sungai membuat sang Prabu menjadi gundah gulana. Ia jatuh cinta pada Satyawati dan ingin mempersunting putri tersebut. Namun, Satyawati mengajukan permintaan jika sang Prabu ingin menikahinya, maka ia harus rela menjadikan anak Satyawati untuk menjadi raja. Permintaan ini jelas memberatkan sang Prabu. Pasalnya, ia sudah punya calon pewaris tahta kerajaan, yakni Bhisma. Jadilah sang Prabu kembali ke istana dalam keadaan gundah dan menderita.
Mengetahui kegundahan ayahnya, akhirnya Bhisma membuat keputusan demi membahagiakan ayahnya. Bhisma pun rela melepas pewaris mahkota kerajaan kepada anak Satyawati demi kesembuhan penyakit “cinta” ayahnya. Dan ia pun bersumpah tidak akan menikah seumur hidupnya demi menjaga agar tidak ada masalah nanti antara keturunan Bhisma dengan keturunan anak Satyawati.
Keputusan tersebut merupakan janji Bhisma yang mengguncangkan jagat pewayangan. Betapa tidak, para dewa pun memberikan anugerah kepadanya untuk bisa memilih saat-saat kematiannya. Hal ini memang benar terjadi. Kematian Bhisma menjadi lakon tersendiri dalam cerita pewayangan. Dalam perang mahadahsyat Bharatayudha, Bhisma telah menentukan sendiri saat-saat kematiannya.
Ketika Perang Bharatayudha, Bhisma berhadapan dengan Sikkhandi, titisan Dewi Amba yang dulu pernah dicampakkan oleh Bhisma hanya karena janji Bhisma yang tidak akan menikah selama hidupnya. Mengenali sukma Dewi Amba dalam tubuh Sikkhandi ia pun takkuasa melawan, karena ia tidak mau melawan seorang perempuan. Lenyaplah kekebalannya dan melesatlah panah-panah Sikkhandi menembusi tubuhnya. Bhisma roboh ke bumi namun ia belum mati. Ia roboh namun tidak menyentuh bumi karena panah-panah yang menancap membuat tubuhnya tidak menyentuh tanah sama sekali.
Bhisma pun belum mau mati pada saat itu. Ia menunggu saat-saat matahari berada di utara katulistiwa. Ia percaya bahwa saat-saat kematian yang paling baik dalam ajaran Hindu adalah ketika matahari berada di utara katulistiwa daripada berada di selatan.
Cucu-cucu Bhisma yang kala itu sedang bertempur, Arjuna di pihak Pandawa dan Suyudana di pihak Pandawa mendekati Bhisma. Dengan sisa-sisa kebijakan seorang orang tua, ia meminta agar Pandawa dan Kurawa untuk berdamai dan menghentikan peperangan. Ia pun memberikan petuah-petuah kepada kedua saudara tersebut namun hasilnya nihil. Perang tidak bisa dihentikan. Selesai memberikan petuah, itulah saat-saat ketika matahari berada di utara katulistiwa dan Bhisma pun menjemput kematiannya.
Lakon Bhisma Gugur merupakan salah satu lakon pewayangan yang disukai oleh penikmat wayang. Dalam lakon tersebut penuh dengan makna dan nasihat-nasihat untuk merenungi kehidupan. Belajar dari keteguhan hati Bhisma ketika mengucap janji, serta pengorbanan yang besar demi kebahagiaan orang tua adalah beberapa contoh pesan yang bisa kita petik dari lakon tersebut.
Mukjizat Bhisma yang bisa menentukan saat-saat kematiannya hanya ada di dalam cerita pewayangan saja. Dalam dunia nyata, tidak mungkin ada seorang manusia yang bisa menentukan saat-saat kematiannya sendiri. Namun, kita terkadang suka memaksa menjadi Bhisma, yakni dengan menentukan saat-saat kematian kita padahal kenyataannya kematian kita masihlah sia-sia.
Bagaimana dengan di Indonesia? Kematian masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang-orang. Kita takut kematian, namun terkadang kita selalu mendekati kematian. Peristiwa-peristiwa yang berujung kematian mudah ditemui di Indonesia. Seakan-akan mereka adalah Bhisma yang bisa menentukan kapan kematiannya. Bedanya, Bhisma telah mempersiapkan jalan menuju kematiannya, kita belum bahkan berpikir ke sana pun mungkin hanya terlintas di acara-acara keagamaan saja.
Kematian Bhisma sebagai seorang yang teguh mempertahankan janjinya barangkali mengilhami budaya hara-kiri di Jepang, yakni seseorang melakukan bunuh diri ketika merasa dirinya tidak berjasa kepada negara dan harus melakukan sesuatu untuk negara. Bunuh diri seperti itu dalam pikiran masyarakat Jepang merupakan puncak keteguhan hati manusia. Mereka rela bunuh diri untuk mempertahankan martabatnya sebagai seorang manusia. Meskipun terkesan anarkis, budaya hara-kiri tersebut masih melekat dalam pikiran orang-orang Jepang sebagai bentuk rasa cinta kepada tanah air.
Apakah budaya bunuh diri merupakan cara terbaik untuk mempertahankan martabat? Barangkali dalam agama Islam, dikenal dengan istilah syahid, yakni mati ketika mempertahankan agama Islam. Istilah syahid itu sendiri agaknya menjadi tujuan utama bagi pengikut Islam berfaham kiri (baca: teroris). Istilah syahid bagi mereka adalah ketika ia bisa menyumbangkan harta bahkan nyawanya untuk menumpas kaum-kaum kafir di muka bumi ini. Namun, cara mereka seringkali salah, sebab mereka melakukan peledakan bukan hanya mematikan orang-orang non Muslim, orang-orang Muslim sendiri pun banyak yang menjadi korban. Bisa saja kan salah satu di antara mereka juga taat beragama atau sedang menjalankan perintah agama? Siapa kalau begitu yang mati syahid?
Kematian Bhisma adalah simbol penuntasan hidup di dunia dengan persiapan bekal sebaik-baiknya. Maka kita yang notabene bukan Bhisma—hanya manusia biasa—kiranya harus lebih baik mempersiapkan bekal menuju kematian. Sebab, waktu kematian tidak akan pernah bisa ditebak oleh logika manusia.

Sumber:
Ajidarma, Seno Gumira. 2004. Biola Tak Berdawai. Jakarta: Akur.
Kosasih, R.A. 1966. Mahabharata (cet. II). Bandung: Melodi.
Sucipto, Mahendra. 2010. Ensiklopedia Tokoh-tokoh Wayang dan Silsilahnya. Jogjakarta: Narasi.

Friday, 3 February 2012

NELAYAN


Nelayan itu memandang laut yang tengah pasang. Wajahnya suram. Kapalnya terkatung-katung dihempas ombak yang mahadahsyat. Barangkali jika lambung kapalnya kena, bukan tidak mungkin ia akan melihat transportasi andalannya tenggelam. Laut kini tengah bergejolak. Kekacauan iklim dan musim telah membuatnya murka. Pihak yang hanya meratapi ganasnya air laut adalah para nelayan yang selama hidupnya ini menggantungkan kehidupannya dari laut. Mereka kini tidak bisa melaut karena laut terlalu ganas untuk mereka arungi.
Mereka bukanlah kumpulan orang-orang sejahtera. Wajahnya menyiratkan kerasnya usaha mereka untuk bertahan hidup. Legam kulitnya telah menyiratkan betapa matangnya mereka menghadapi kesusahan, menghadapi terjangan ombak, serta menghadapi panasnya matahari yang membakar. Pandangan matanya mengisyaratkan betapa arti kesejahteraan selalu jauh dari benak mereka.
Sejak dulu Indonesia adalah negara bahari yang terkenal akan kekuatan pelaut-pelautnya. Hal ini dibuktikan dengan kegigihan nelayan Sulawesi, Padang, Jawa, Banda, serta daerah-daerah dimana laut menjadi sumber penghidupan bagi manusia. Bahkan, takjarang mereka harus bertempur melawan penjajah yang hendak menjajah tanah kelahirannya. Sebut saja salah satunya adalah rakyat Banten pesisir yang berjuang untuk menghalau kedatangan kapal-kapal Portugis. Meskipun akhirnya penjajah berhasil mengalahkan serangan mereka, semangat juang dan kegigihannya layak untuk dijadikan pedoman semangat bagi bangsa Indonesia sekarang.
Nelayan adalah sebutan bagi orang yang menangkap ikan di laut. Mereka takhanya memiliki keterampilan menangkap ikan, namun juga harus memiliki keterampilan berenang, navigasi, membaca cuaca, serta menjadi tukang jika sewaktu-waktu kapal mereka rusak. Mereka juga harus memiliki fisik yang kuat, tahan panas, tahan hujan, karena begitu mereka pergi mengarungi laut, mereka harus siap dengan kondisi apa pun selama mereka berada di laut.
Menjadi nelayan adalah pilihan hidup bagi mereka yang tinggal di daerah pesisir. Melakukan pekerjaan yang diwariskan  secara turun temurun dari leluhurunya merupakan kebanggaan yang selalu tersemat di dadanya. Mereka takkhawatir kulit mereka akan legam terbakar matahari dan angin yang bergaram. Bagi mereka, laut adalah panggilan hidup mereka. Bagi mereka pilihan untuk melaut adalah pasti. Melaut atau meninggalkan daerah mereka. Di hadapan mereka terbentang laut dengan segala kekayaannya. Laut menghempas-hempas pantai seakan menjadi magnet bagi mereka untuk turun mengarungi lautan.
Mereka akan turun pada malam atau siang, tergantung angin dan cuaca. Biasanya, waktu terbaik untuk melaut adalah pada waktu malam, karena angin dan gravitasi rembulan akan mendapatkan banyak ikan. Berbekal perahu (entah punya sendiri atau menyewa), lampu templok, jala, serta perbekalan secukupnya, mereka turun ke laut. Mereka tidak akan takut tersesat karena leluhurnya telah memberikan ilmu alami untuk membimbing mereka selama di laut hingga kembali ke darat. Nelayan telah hafal membaca rasi-rasi bintang untuk mengetahui arah. Waluku, pari, biduk, telah mereka hafal bagaimana bentuk gugusannya.
Nelayan juga merupakan seorang peramal cuaca yang baik. Mereka akan tahu bagaimana kondisi cuaca pada saat mereka di laut hanya dengan melihat langit dan merasakan tekanan angin. Oleh karena itu, mereka selalu hafal setiap kali akan ada badai turun di lautan.
“Kalau cuaca buruk ya ikan-ikan pun sulit didapat,” begitu kata mereka.
Mempertimbangkan cuaca, arah angin, serta gugusan bintang adalah kemampuan alamiah yang melekat pada diri seorang nelayan. Mereka tidak mendapatkan ilmu itu dari akademi, karena tidak semua dari mereka yang pernah mengecap bangku sekolah. Tekad dan pengalaman adalah guru terbaik mereka. Berbekal tekad untuk menjemput rezeki, serta pengalaman membaca “bahasa laut” lalu kemudian diterjemahkan di dalam pikiran mereka, jadilah laut menjadi sumber penghidupan mereka. Jika tidak memiliki kedua-duanya, jangan harap pernah bisa untuk turun ke laut. Tidak heran jika penyanyi balada Indonesia, Leo Kristi menciptakan lagu untuk para nelayan karena semangat hidupnya yang tinggi tersebut.

Kesejahteraan
Nelayan tinggal berkelompok di suatu dusun dekat pesisir. Berkelompok-kelompok karena dalam melaut pun mereka akan berkelompok pula. Permukiman mereka adalah permukiman yang sederhana. Masih untuk jika rumah mereka bertembok dan mempunyai listirk. Rata-rata—di sebagian wilayah yang lain—listrik belum sampai ke daerah mereka. Bahkan rumah mereka pun masih terbuat dari kayu dan terapung-apung di sepanjang pesisir, seperti halnya kampung nelayan di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Dari kesederhanaan itulah, dunia mereka tidak dibatasi oleh keterbatasaan fasilitas masyarakat. Dunia mereka adalah seluas lautan yang terhampar di hadapannya. Selama laut tersebut masih menyimpan kekayaan alamnya, mereka tidak akan takut untuk tidak hidup.
Tinggal di lingkungan pesisir memang tidaklah menyenangkan, selain harus siap mengahadapi keganasan nyamuk-nyamuk, mereka pun harus siap dengan bencana yang bisa datang sewaktu-waktu, seperti abrasi laut, banjir rob, maupun tsunami.
Jika ditanya kenapa tidak pindah ke daerah yang agak jauh dari laut mereka hanya tertawa sambil berkata, “Laut adalah bapak kami. Maka tidak mungkin seorang bapak akan mencelakakan anaknya!”. Terkesan penuh candaan, tetapi begitulah hukum alam yang terjadi. Di dalam jiwa nelayan hanya ada gemuruh laut, ombak yang membasahi tubuhnya, serta ikan-ikan yang seakan selalu menggoda untuk ditangkap.
Sadar untuk tidak membuat “bapaknya” marah, para nelayan pun berswadaya membangun kawasan hutan bakau. Mereka merehabilitasi kawasan-kawasan rawa yang tidak subur, penuh nyamuk, hingga menjadi kawasan hutan bakau. Mereka merehab berdasarkan instuisi dan dana mereka sendiri.
Dalam segi mitologi pun, mereka begitu menghormati keberadaan dari laut ini. Setiap tahun mereka mengadakan tradisi “sedekah laut”, yakni melarungkan sesaji ke tengah laut dengan tujuan agar laut selalu sudi diambil kekayaannya oleh para nelayan. Tradisi “sedekah laut” ini pula dilakukan untuk menghormati keberadaan tokoh mitologi laut, salah satunya adalah Ratu Nyi Roro Kidul, yang bermukim di laut selatan Indonesia
Kesadaran yang lain adalah ketika mereka melaut. Mereka tidak akan menggunakan pukat yang terlalu besar untuk menangkap ikan. Bagi mereka ikan-ikan pun perlu dijaga kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, mereka hanya menggunakan jala yang biasa untuk menangkap ikan.
Mereka sering sedih melihat makin banyaknya nelayan-nelayan berbendara negara lain yang santai mengambil ikan di wilayah laut Indonesia. Peralatan yang mereka gunakan pun terkadang menggunakan pukat harimau, sejenis pukat yang dijalankan oleh mesin sehingga mampu menarik ikan secara besar-besaran. Terkadang nelayan-nelayan asing itu sering menggunakan peledak untuk menangkap ikan secara besar-besaran. Takjarang hasilnya merusak ekosistem perairan laut, seperti merusak karang-karang yang telah tumbuh selama jutaan tahun.
Mau melawan pun, mereka hanyalah nelayan kecil yang tidak punya deking apa-apa. Pemerintah bukannya tidak peduli pada kesejahteraan mereka, pada kelestarian ekosistem laut. Hanya, kesadaran untuk melakukan antisipasi kiranya belum bulat dilakukan oleh pemerintah. Mereka terkadang giat, namun lebih banyak malas dan redup. Jika semangat pemerintah untuk memajukan kesejahteraan nelayan pun akhirnya surut, mau tidak mau mereka kembali menggantungkan hidupnya ke laut, tempat segala keluh kesah mereka “terobati”.
Laut adalah harapan, laut adalah masa depan. Masa depan bagi para nelayan yang murni menggantungkan hidupnya dari laut. Harapan untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik dari hasil laut yang mereka dapatkan. Namun, sepertinya harapan tinggallah harapan, karena selain laut, mereka pun harus diperhatikan oleh pemerintah. Jika disuruh memilih antara laut dengan pemerintah, pastinya mereka akan memilih laut!

Bandung, Muara Angke, Parangtritis, Pameungpeuk. 2007—2012

Sumber gambar di sini


Wednesday, 1 February 2012

MENGAJARKAN FILSAFAT PADA ANAK


Sistem pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masih jauh dari harapan. Sistem pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah konvensional terbilang masih belum bisa membentuk karakter individu masing-masing pelajar. Hal ini disebabkan selain kualitas pengadaan sarana sekolah yang belum merata, pengadaan guru sebagai sarana pembelajaran utama belum maksimal, serta mata pelajaran yang belum memungkinkan siswanya membentuk kepribadian dari mata pelajaran tersebut.
Hal ini terlihat dari pendidikan sekolah dasar yang ada. Jika di negeri lain, pemerintah dengan sadar mengutamakan mata pelajaran yang bersifat mengarah pada pembentukan karakter seperti filsafat, seni, dan sastra, sistem pendidikan dasar di Indonesia hanya cukup puas dengan metode calistung atau baca, tulis, dan berhitung saja. Saya tidak menganjurkan untuk mengikuti model Barat, akan tetapi filsafat sebenarnya harus ditanamkan sedini mungkin. Sebab, filsafat berkaitan erat dengan kehidupan. Masalah calistung sebagai program yang diunggulkan pemerintah hanya berupa penyelesaian masalah teknis di kehidupan yang sebenarnya.
Mengajarkan filsafat pada anak-anak merupakan solusi yang baik untuk membentuk kepribadian anak serta untuk mengajarkan hakikat kehidupan. Pada kasus-kasus yang ada, seorang anak seringkali bertanya kepada orang tua dengan pertanyaan yang mungkin jauh melebihi pemikiran anak seusianya, misalnya, “Ayah kenapa aku bisa ada di dunia ini?”, atau “Ibu, kenapa orang bisa mati, lalu besoknya ada bayi yang lahir?”. Barangkali untuk sebagian orang tua akan susah menjawab pertanyaan si anak.
Pertanyaan di atas sebenarnya menyangkut pada identitas manusia. Dalam filsafat dikenal sebagai konsep dari keber”Ada”an. Manusia Ada dan mengAda. Para ilmuwan mendefinisikan Ada sebagai kebermulaan dari sebuah kehidupan. Dalam konteks agama, Ada ini didefinisikan sebagai Tuhan yang menciptakan kehidupan dan segala isinya. Dapatkah hal ini dijelaskan dalam bahasa anak-anak?
Anak-anak usia berkembang merupakan usia anak yang serbaingin tahu. Melihat fenomena yang ada di sekelilingnya selalu menarik keingintahuannya. Psikomotoriknya bergerak, meliha segala sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Oleh karena itu, wajarlah jika anak sering melontarkan pertanyaan yang barangkali terlalu cepat ditanyakan pada anak seusia tersebut. Tentunya, pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut dengan eksistensi kehidupan tidak mungkin dijawab dengan metode calistung saja bukan?
Kaum Barat sadar akan hal tersebut. Untuk menjawab sebuah pertanyaan tentang kehidupan, seorang anak harus dibekali wawasan pengetahuan lain yang mampu menjabarkan apa yang tersurat di dalam agama. Mengacu pada pemikiran Aristoteles yang mengemukakan bahwa Agama, Filsafat, dan Sastra adalah beberapa hal yang mampu membawa manusia menuju kebenaran. Sastra dan Filsafat bersumber pada Agama. Agama sebagai pedoman hidup, lalu Filsafat dan Sastra sebagai jalan menuju pedoman manusia tersebut.
Mengajarkan filsafat pada anak secara perlahan akan membentuk keintelektualan yang terintegrasi. Berapa banyak pemikir-pemikir muda di Indonesia ini? Bangsa ini selalu menganggap bahwa seseorang dikatakan pintar atau jenius jika ia menguasai sains dan teknologi. Kenyataannya, para ahli sains dan teknologi pun masih kewalahan untuk menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya. Mereka terlalu sering menggunakan otak kiri, namun otak kanannya jarang sekali dimaksimalkan. Otak kanan adalah kemampuan otak dalam hal-hal seni, sastra, dan filsafat. Oleh karena itu, kini para ilmuwan dan dokter menganjurkan untuk membaca sastra, bermain dan mendengarkan musik (terutama klasik dan jazz), serta teater. Selain untuk menyeimbangkan fungsi otak kanan, juga sebagai sarana untuk kembali “menyadarkan” kesadaran manusia yang hanyut dalam teori-teori sains.

Jangan Ragu
Ada beberapa keuntungan mengajarkan ilmu Filsafat kepada anak, salah satunya ialah menjadikan anak memiliki kemapuan menalar yang baik. Pada dasarnya dunia ini terdiri dari banyak tanda. Sama seperti dalam karya sastra, tanda-tanda tersebut akan menjadi baik bila manusia mahir menafsirkannya. Namun, jika kita salah menafsirkan tanda-tanda tersebut malah akan menjerumuskan manusia. Anak-anak haruslah sudah mampu membaca tanda di sekelilingnya, agar tidak terjadi lagi anak-anak yang nantinya malah akan terjerumus menjadi generasi yang kotor dan salah.
Salah satu contoh pembelajaran filsafat pada anak adalah ketika seorang guru bertanya kepada muridnya tentang apa yang ada di balik tembok kelas. Murid-murid menjawab di balik tembok kelas ada jalan raya, halaman, mobil, dan lapangan basket. Guru tersebut tersenyum dan berkata bahwa jawaban mereka semuanya salah. Lantas guru tersebut menjawab bahwa yang ada di balik tembok itu adalah cat yang menutupi lapisan tembok.
Sangat sederhana memang, namun itulah hakikat dari filsafat. Filsafat mengajarkan hal-hal yang tidak mampu didefinisikan oleh ilmu apa pun, sebab filsafat adalah sumber dari segala ilmu. Tanda-tanda yang telah disebutkan oleh mruid-murid di atas adalah tanda yang berisfat konvensional, namun mereka lupa bahwa tanda yang dekat dan bahkan kita tidak menyadarinya sangat berperan dan berpengaruh dalam kehidupan.
Seringkali dalam pandangan orang, Filsafat mengajarkan Atheis. Pernyataan itu tentunya sama sekali tidak benar. Filsafat sangat berkaitan erat dengan agama. Keatheisan yang muncul dalam filsafat didasarkan pada pemahaman yang berbeda dari masing-masing orang tentang konsep keber”Ada”an. Agama mana pun di dunia ini selalu berkaitan dengan filsafat untuk mendefinsikan ajarannya. Filsafat pada dasarnya adalah “tafsir yang (ber)etika”, yakni penafsiran yang (harus) mengandung etika ketika kita memaknai suatu tanda tertentu. Agama sendiri pun butuh tafsiran untuk memaknai ajaran yang tertera pada ayat-ayat suciNya.
Menjelang masa-masa perkembangan tubuh dan pikirannya, anak-anak perlu dibekali semacam pengetahuan tentang hakikat kehidupan. Tujuannya adalah untuk mengarahkan pemikiran anak-anak ke pemikiran yang berintelektual. Ada kalanya orang tua tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh anak. Jika asal menjawab maka selamanya anak akan mengacu pada jawaban itu. Misalnya ketika mengapa kita harus takut pada hantu, orang tua akan menjawab karena hantu akan menggigit manusia. Sebenarnya maksud orang tua bukan untuk menakut-nakuti, tetapi jika anak tidak dibekali kemampuan menafsir yang baik, secara otomatis ia akan takut pada hantu seumur hidupnya.
Ada kalanya anak sendirilah yang harus mencari sendiri jawaban dari pertanyaan yang diajukannya. Dengan diajari filsafat, setidaknya ia mampu memahami realitas-realitas kehidupan yang baru dan sama sekali belum pernah dilihatnya. Filsafat mengajarkan kontinuitas berpikir manusia, bukan untuk membuat mandeg pikiran manusia.
Bandung, 01 Februari 2012