Dunia kelam membawaku memasuki sebuah peradaban yang
mungkin tidak pernah aku jumpai sebelumnya. Aku terasing dari keramaian, dari
masa lalu, masa kini, dan barangkali masa depan. Semua telah berubah manakala
aku telah tenggelam dalam lautan kemuraman tanpa cahaya keemasan tanpa cahaya
mega-mega yang berarak di atasnya. Apa yang bisa kulakukan untuk bisa
mengembalikan semuanya kembali seperti sediakala?
Langit hanya mendung dan kelam, tapi aku menyukainya.
Apa salahnya? Bukankah segala sesuatu tidak pernah ada yang sempurna? Aku
menyukai mendung bukan berarti jiwaku kelabu dan sendu. Mendung mengandung
butiran hujan yang siap turun membasahi bumi yang kerontang, dan aku suka
hujan. Hujan bagaikan denting piano yang memecah kesunyian memainkan sebuah requiem kerinduan dari partitur-partitur
sunyi. Dan hujan yang akan membawaku pulang kembali padamu, setelah lama
terasing dari dunia kelam yang akan tetap kelam meski zaman telah hingar bingar
oleh cahaya lampu. Kerlap-kerlip.

