“Selalu bersama,” katamu, “kita selalu bersama.”
Dalam dunia yang tidak pernah tercatat waktu, kami selalu berjumpa dan bersama. Dalam semesta ruang yang tak berhampa, kami selalu mencatat sebuah sejarah dan masa gemilang. Karena masa akan terus berganti, melenyapkan kini menjadi masa-masa berikutnya, lalu ia pun akan berganti juga begitu seterusnya. Apakah masa-masa yang telah hilang tersebut secara harfiah akan hilang tanpa ada bekasnya? Betapa masa-masa lalu selalu penuh dengan kenangan. Dan tentu saja kenangan tidak akan melayang, lenyap hilang di udara manakala kita selalu abadikan bagai sebuah foto yang selalu tersimpan rapi dalam album.
Kami selalu bertemu tanpa cahaya, karena apakah cahaya akan selalu ada mempertemukan kami? Masalahnya, dunia tidak selamanya disinari oleh cahaya. Adakalanya cahaya akan hilang datang pergi bagai langkah kaki bagai guguran daun, muncul lagi hilang lagi muncul lagi hilang lagi. Betapa cahaya tidak akan selamanya bersinar benderang. Karena itulah kami memutuskan bertemu tanpa cahaya yang membiasi kami. Bagaimanakah bisa melihat wajah masing-masing; seseorang kelak akan berkata seperti itu pada kami. Betapa tanpa cahaya pun, aku sudah bisa melihat wajahnya karena mata kami tidak pernah berdebu. Mata kami bisa menembus kegelapan, bisa menjelajahi semesta gelap yang sunyi dan kelam. Mata kami berada di hati dan siapa yang hendak mencarinya?



