Wednesday, 6 March 2013

BAYANG-BAYANG

“Selalu bersama,” katamu, “kita selalu bersama.”

Dalam dunia yang tidak pernah tercatat waktu, kami selalu berjumpa dan bersama. Dalam semesta ruang yang tak berhampa, kami selalu mencatat sebuah sejarah dan masa gemilang. Karena masa akan terus berganti, melenyapkan kini menjadi masa-masa berikutnya, lalu ia pun akan berganti juga begitu seterusnya. Apakah masa-masa yang telah hilang tersebut secara harfiah akan hilang tanpa ada bekasnya? Betapa masa-masa lalu selalu penuh dengan kenangan. Dan tentu saja kenangan tidak akan melayang, lenyap hilang di udara manakala kita selalu abadikan bagai sebuah foto yang selalu tersimpan rapi dalam album.

Kami selalu bertemu tanpa cahaya, karena apakah cahaya akan selalu ada mempertemukan kami? Masalahnya, dunia tidak selamanya disinari oleh cahaya. Adakalanya cahaya akan hilang datang pergi bagai langkah kaki bagai guguran daun, muncul lagi hilang lagi muncul lagi hilang lagi. Betapa cahaya tidak akan selamanya bersinar benderang. Karena itulah kami memutuskan bertemu tanpa cahaya yang membiasi kami. Bagaimanakah bisa melihat wajah masing-masing; seseorang kelak akan berkata seperti itu pada kami. Betapa tanpa cahaya pun, aku sudah bisa melihat wajahnya karena mata kami tidak pernah berdebu. Mata kami bisa menembus kegelapan, bisa menjelajahi semesta gelap yang sunyi dan kelam. Mata kami berada di hati dan siapa yang hendak mencarinya?

DARI BALIK PERJALANAN

Perjalanan panjang ini membuatku menjadi serasa terasing dari dunia ini. Aku rindu rumah. Aku rindu kamar. Aku rindu hangat pagi hari. Dan aku juga rindu kamu. Telah lama kutelusuri perjalanan yang barangkali aku sendiri pun takakan pernah tahu kapan akan temukan tujuannya. Aku berjalan tanpa arah mata angin. Aku berjalan tanpa mengenal waktu. Dan aku berjalan tanpa mengenal tujuan. 

Bus terus melaju menembus perbukitan. Dari balik kaca jendela kulihat dunia, dunia yang sebenarnya terhampar dengan jelas di depanku yang hanya dibatasi oleh kaca sahaja. Tentunya aku tidak sedang melihat fatamorgana. Segala yang ada terlihat dengan sangat jelas di depan mataku. Bukankah kamu sendiri yang bilang jika sesuatu yang tampak di depan mata terlihat dengan sangat jelas dan dapat diraba maka itulah dunia sebenarnya yang kita pandangi? 

Saturday, 23 February 2013

LIMA FRAGMEN TENTANG KENANGAN



I

“Kelak jika aku kembali kesini. Akan kukumpulkan semua kenangan-kenangan kita yang terserak di beberapa tempat, lalu aku simpan di sebuah ruangan yang akan kuberi nama Museum Kenangan,” ujar seorang lelaki kepada kekasihnya, sesaat sebelum waktu memisahkan mereka di kota Jogja.

Malam yang dingin, angin membawa hujan. Sepasang kekasih itu berjalan di sepanjang trotoar yang mulai sepi. Satu persatu orang-orang pulang, pedagang kaki lima membereskan dagangannya. Beberapa turis masih ingin menikmati malam dengan sekadar berjalan-jalan, ataupun makan di warung-warung yang bertengger di pinggir jalan. Pengamen memainkan lagu cinta.

Sepasang kekasih itu mendengar lagu yang dinyanyikan oleh pengamen itu. Keduanya saling menatap bahagia, seakan belum pernah menemukan kebahagiaan seperti itu selama hidupnya. Ada rasa yang takbisa diucap oleh kata. Keduanya terdiam, namun dalam hati mereka masing-masing tengah berlangsung percakapan yang mesra dan lembut.

“Aku bahagia,” ujar si wanita sambil menggenggam erat tangan lelakinya.

Sunday, 3 February 2013

Brrr... Menggigil di Kereta Ekonomi


sumber foto: klik

Selama ini anggapan masyarakat mengenai kereta ekonomi ialah suasana kereta yang bejubel, padat, kotor, banyak tukang dagang, berebut, kumuh, kondisi kereta yang tidak terawat, serta berbagai pemikiran yang notabene mengarah ke negatif. Hal ini tentunya selalu menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi PT KAI Indonesia untuk merealisasikan suatu sarana transportasi masal yang murah, cepat, dan nyaman.

Perlahan tapi pasti, langkah PT KAI untuk merevitalisasi kereta kelas ekonomi terbilang berhasil. Wajah buruk tentang kereta ekonomi sebagai angkutan murah namun penuh risiko perlahan mulai berubah. Hal ini terlihat ketika saya menaiki KA Ekonomi Kahuripan tujuan Padalarang-Kediri. Suasana KA ekonomi yang menjadi sarana favorit wisatawan yang bergelar “backpacker” Bandung menuju kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Thursday, 3 January 2013

KAMU, YA HANYA KAMU

*I


Kamu, yang berlindung di balik waktu, yang merengkuh dalam cahaya senja. Ya, kamu, hanya kamu. Siapa lagi kalau bukan kamu? Yang menggenggam jemari sang takdir hingga akhirnya mendekapnya dengan erat.

Kamu, yang indah dalam nanar matahari, yang berbicara pelan dalam goresan kabut. Ya kamu, hanya kamu. Siapa lagi kalau bukan kamu? yang mengubah waktu dan memutarbalikkan ingatan.

Kamu, yang ceria dalam hujan akhir tahun, yang menangis dalam kemilau matahari. Ya kamu, bukan dia atau mereka. Hanya kamu. Siapa lagi yang sudi bertahan hanya untuk kamu? yang selalu lupa bahwa waktu serupa denting-denting sunyi.

Kamu, yang menjadi hujan dalam lautan abu, yang menjadi peluk dalam kesunyianku.


Kamu, ya.. Aku rindu.