Tuesday, 17 April 2012

KETIKA MAHASISWA (HARUS) MENJADI SEORANG PENGEMIS


Kemarin pagi saya berangkat dari rumah menuju tempat kerja dengan menggunakan bus kota. Sebuah pagi yang indah untuk mengawali rutinitas yang mungkin kata orang sangatlah membosankan. Lho, mengapa mereka bisa bilang membosankan? Mungkin bagi orang-orang yang berkata rutinitas di pagi hari adalah membosankan, saya pikir mereka sudah bosan hidup.

Terlalu sadis memang, tapi hidup itu perlu disyukuri. Manusia kadang tidak pernah bisa mensyukuri kehidupannya. Sudah dikasih umur sampai kembali menemui pagi, eh malah tidur kembali dan malas untuk beraktivitas. Itulah sebenarnya tanda-tanda nyata orang yang “siap” menghadapi kematiannya, yakni saat-saat dimana pagi sudah bukan menjadi kekaguman dan kebahagiaan untuknya.

Saya pun naik bis menuju ke tempat kerja saya, sebuah universitas besar di pinggiran kota.  Berbekal Rp5000,00 rupiah, saya bisa menuju ke tempat kerja yang bisa memakan waktu sampai satu jam perjalanan. Sepanjang perjalanan, saya nikmati dengan mendengar lagu sambil melihat-lihat pemandangan sambil sesekali melirik-lirik siapa tahu ada teman yang dikenal (atau mungkin hal-hal yang mampu membangkitkan gairah beraktivitas di pagi saya, hahaha). Bus pun terus melaju, hingga sampailah bus tersebut di pintu gerbang tol. Hal ini berarti, tidak lama lagi perjalanan saya akan segera sampai di tempat tujuan.

Setelah pengecekan penumpang, bus kembali melaju memasuki tol. Hampir semua penumpang sibuk dengan pikiran dan aktivitasnya masing-masing, seperti tidur, main BB, mendengar lagu, baca buku, hingga ngupil. Saya pun terhanyut dalam irama lagu yang mengalun di pemutar musik sambil menatap pemandangan di luar keca jendela. Namun, aktivitas saya sedikit terusik oleh seseorang yang sedang membagikan sebuah amplop (tepatnya kertas yang dilipat dan dilem hingga terlihat seperti amplop). Yang membagikan kertas itu adalah seorang pemuda. Ia tersenyum ketika memberikan secarik amplop tersebut kepada saya sambil berkata “punten”.

Saya pun menerima amplop tersebut. Tadinya saya pikir amplop tersebut adalah amplop penggalangan dana dari suatu organisasi atau kelompok untuk bantuan bagi korban bencana alam. Ketika saya buka ada satu hingga dua paragraf tulisan/surat yang merupakan latar belakang ia memberikan amplop tersebut. Saya baca dan saya kaget ketika tahu isi dari tulisan tersebut. Sayang, saya lupa memfotonya. Yang jelas, bunyi dari surat tersebut adalah permohonan bantuan dari penumpang. Pemuda yang memberikan amplop tadi ternyata adalah seorang mahasiswa yang—mungkin—akan segera lulus dari kuliahnya. Namun, ia terganjal oleh hutang kepada pihak kampus sebesar Rp6.500.000,00 dan ditambah dengan membayar wisuda yang akan diselenggarakan pada bulan November nanti
.
Mahasiswa tersebut mengaku tidak memiliki uang untuk membayar dan melunasi hutangnya. Oleh karena itu, ia “terpaksa” meminta belas kasih dari orang-orang untuk sudi memberikan sedekah berapapun nominalnya untuk membantu membayar biaya tersebut. Dalam suratnya, ia pun meyakinkan orang-orang bahwa ia memiliki cita-cita yang tinggi. Sebagai bukti bahwa ia berstatus mahasiswa, ia tuliskan bahwa ia mempunyai kartu mahasiswa.

Sayang, ia tidak menunjukkan bukti kartu tersebut kepada orang-orang juga nama kampus tempat ia belajar. Barangkali ia malu untuk menunjukannya, namun, bukti tertulis saja saya yakin tidak akan mudah dipercayai orang.

Setelah membagikan amplop tersebut, ia pun diam berdiri di pintu bis tanpa melakukan apa-apa. Saya pikir, ia akan mengamen atau berorasi untuk “meluluhkan” hati penumpang. Namun, ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya diam mematung sambil pandangannya lurus ke depan.

Sebagai seorang yang dulu pernah berstatus mahasiswa, saya pun iba melihat kondisi mahasiswa malang tersebut. Saya merasakan bagaimana susahnya menjadi mahasiswa, apalagi dengan biaya perkuliahan yang selangit. Namun, di dalam hati saya terjadi sebuah pertentangan antara membela atau menolaknya. Saya kembali pandang ia, ia seorang pemuda yang masih kokoh, tegap, dan memang sangat tidak wajar jika sampai mengemis. Apalagi dengan statusnya sebagai mahasiswa, tentunya ia punya banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang selain dari mengemis.

Mahasiswa sampai mengemis? Itulah pertanyaan yang sungguh membuat miris jika Anda benar-benar melihat kejadian tersebut di depan mata Anda. Dan saat itu, saya benar-benar menghadapinya. Tragis memang, ini menjadi bukti betapa pemerintah telah gagal untuk memberikan pendidikan yang benar-benar terjangkau oleh golongan cilik sekali pun. Namun, saya pun kembali teringat bahwa ia adalah mahasiswa, bukan lagi seorang siswa. Ia adalah siswa yang “maha”, tulang punggung negara nantinya. Sebagai seorang yang berstatus maha, tentunya banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa daripada mengemis. Apalagi ia tidak melakukan apa-apa dalam aktivitas mengemisnya, hanya memberikan amplop dan berharap Tuhan memberikan rezekiNya lewat belas kasih orang-orang tanpa melakukan apa-apa.

Saya bukan menjelek-jelekkan dia, saya pun merasakan bagaimana susahnya menjadi mahasiswa, apalagi dalam urusan finansial. Akan tetapi, mengemis pun bukanlah jalan yang terbaik untuk mencari uang. Mahasiswa bukan dibentuk untuk menjadi seorang pengemis. Mahasiswa adalah individu yang digembleng oleh dosennya untuk menjadi individu yang berkualitas, bukan malah menjadi robot yang menyerap ilmu-ilmu saja. Ia harus punya sikap dan berani melawan untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang menjadi tirani bagi langkahnya. Sesuatu yang menjadi ranjau dalam perjalanannya.

Saya pun menjadi iba dengannya. Iba dalam artian mengapa ia bisa sampai memilih untuk menjadi peminta-minta tanpa memberikan suatu jasa ataupun sesuatu yang bisa dijual, misalnya mengamen, baca puisi, atau hal lainnya. Padahal, belum tentu orang pun akan iba pada dirinya, malah bisa jadi menganggapnya menjadi rendah dan berkata, “masa seorang mahasiswa harus ngemis?” kasihan.. kasihan..

Beberapa menit kemudian, ia pun mengambil kembali amplop-amplop yang telah dibagikan. Sampailah ia ke kursi saya dan mengambil amplop yang tidak saya isi uang. Saya takut jika saya isi uang, ia malah keenakan untuk menjadi seorang pengemis (saya bukan pelit lho!).Saya pandangi dalam-dalam ia, ia hanya tersenyum sambil menatap saya. Ada rasa malu dan kasihan pada dirinya (mungkin menyadari jika amplop dari saya tidak berisi uang). Akh, kau sebenarnya masih bisa berusaha tanpa mengemis Bung! Kataku dalam hati. Banyak hal yang bisa kau kerjakan tanpa dengan mengemis, misalnya bekerja paruh waktu ataupun menulis artikel yang bisa mendatangkan uang. Jangan takut untuk tidak mendapatkan pekerjaan, rezeki pasti telah disediakan untukmu, asalkan kau mau berusaha tanpa pernah menjadi seorang pengemis.

Saya hanya bisa berdoa untuknya, semoga Tuhan Yang Mahabaik melapangkan rezeki baginya dan semoga ia sadar akan kekeliruannya untuk menjadi pengemis dan berusaha keras mencari uang tanpa pernah menjadi pengemis bagi orang lain. Selamat berjuang Bung! Gunakan ilmumu untuk menyukseskan hidupmu. Dan jangan lagi kau menjadi seorang pengemis!



Sepanjang Tol Moh. Toha-Cileunyi, 17 April 2012

Monday, 20 February 2012

PEKERJA INDONESIA, SEJAHTERA DALAM ANGAN-ANGAN


Indonesia merupakan salah satu dari negara yang memiliki jumlah pencari kerja yang banyak. Setiap tahun, ribuan perguruan tinggi di Indonesia melepas ribuan sarjana-sarjana terbaiknya (menurut versi mereka). Sarjana-sarjana tersebut masing-masing berebut untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Jika ingin kerja di bank maka terjadi proses seleksi yang ketat untuk mendapatkan sarjana-sarjana yang berkualitas. Jika ingin kerja di kantoran serta instansi yang bergengsi pun persaingan untuk memperebutkannya semakin ketat dan sulit.
Fenomena tersebut kini lumrah terjadi di Indonesia, sebab lapangan pekerjaan yang ada belum mampu menampung para lulusan tersebut. Mau tidak mau mereka harus menjual kualitas mereka kepada perusahaan yang dilamar. Tidak heran jika dalam surat lamaran, mereka selalu mencantumkan kualifikasi dan kelebihan yang dimiliki agar perusahaan mempertimbangkan si pelamar tersebut (meskipun kebanyakan kualifikasi tersebut bersifat klise).
Sebagai negara yang akan menganut sistem pasar bebas, globalisasi mengharuskan manusia Indonesia memiliki kualitas dan daya saing yang baik dengan manusia dunia lainnya. Sebab, fenomena persaingan antar pencari kerja bukan hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan hampir di seluruh belahan dunia. Organisasi Buruh PBB memprediksi bahwa dunia ini butuh lebih kurang 500 juta lapangan kerja baru untuk mempekerjakan para pencari kerja di seluruh dunia. Itu pun bagi yang sudah tercatat dalam data sensus pencari kerja. Masih banyak lagi kan para pencari kerja yang belum terdata oleh PBB?
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang dijerat masalah pengangguran. Bagaimana tidak, industri yang ada belum mampu menampung jumlah pencari kerja yang ada. Kalau pun dipaksakan menampung, buntutnya pekerja lagi yang dikorbankan. Kasus demo buruh di Cikarang kemarin merupakan bukti bahwa para buruh dari tahun ke tahun semakin menjalar bak tanaman merambat. Tiap tahun industri membuka lowongan pekerjaan, namun terkadang income perusahaan tidak sebanding dengan jumlah karyawan yang ada. Mau tidak mau kesejahteraan para buruh (yang notabene merupakan pekerja tingkat dasar) harus dikorbankan.
Buruh juga manusia. Ia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri. Bagi yang sudah kawin dan punya anak, ia tentu harus menghidupi pula istri dan anak-anaknya tersebut. Bagi yang belum kawin, toh setidaknya ia pun harus mencukupi kebutuhan dirinya sendiri. Mereka bekerja sebenarnya untuk kesejahteraan orang lain, kesejahteraan petinggi mereka, hingga kesejahteraan masyarakat pengguna produk yang dihasilkan mereka. Betul kan?
Kaum buruh sadar. Mereka bisa dikategorikan sebagai kaum yang terintimidasi. Bahasa sosialnya adalah kaum proletar. Akhrinya mereka turun ke jalan, menuntut hak-hak yang selama ini “disembunyikan” oleh demokrasi dan birokrasinya. Tentunya aksi demo buruh ini pun lebih hebat dari aksi pembunuh (siapa yang mampu memblokir jalan tol selain para buruh?)
Mereka berhak menuntut haknya. Namun, apakah mereka telah berhasil menjalankan kewajibannya sebagai pekerja dengan baik?
Muncul sebuah anekdot dalam pikiran saya. Untuk mengukur tingginya semangat kerja para pekerja di Indonesia salah satunya bisa dilihat dari seberat apa ia mengalami sebuah masalah dalam hidupnya. Semakin berat masalah yang dihadapi, apalagi jika sudah menyangkut masalah keuangan, maka semakin besar juga semangat pekerja untuk bekerja dengan giat. Misalnya, ia butuh uang untuk membayar kontrakan, biaya pengobatan rumah sakit, membiayai pernikahan atau kelahiran anaknya, hingga membiayai biaya pendidikan anak atau kerabat. Jika ia sudah memiliki latar belakang kebutuhan finansial, rangsangan untuk bekerja dan mencari uang dengan giat semakin muncul dalam pikiran pekerja Indonesia.
Namun, jika mereka tidak sedang terlibat masalah seperti di atas, adakalanya mereka selalu menomorduakan kedisiplinan. Toh dalam pikiran mereka, musibah sedang tidak berkunjung padanya. Kita sering menjumpai karyawan yang bolos tanpa alasan, pekerja yang masuk ke kantor terlambat, terlebih jika mereka sedang mengalami masa-masa cuti bersama. Rasa malas untuk masuk kerja biasanya selalu menggoda para pekerja di masa-masa pasca cuti bersama. Hal inilah yang saya maksud dengan menomorduakan kedisiplinan.
Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan para pekerja di negara-negara maju, dimana waktu begitu dihargai oleh mereka. Tengoklah Jepang, Korea, atau negara-negara maju di Eropa sana. Para pekerja di sana begitu memperhatikan waktu. Pepatah “waktu adalah uang” sangat dimaknai di dalam kehidupannya. Oleh karena itu mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu. Jika bisa dipakai untuk bekerja mereka akan bekerja dengan giat.
Motivasi kerja mereka sudah bukan lagi menyangkut kesejahteraan individu, namun bekerja demi kemajuan bangsa dan negara. Berbeda dengan motivasi pekerja di Indonesia, kerja untuk cari uang, cari kesejahteraan, hingga cari biaya untuk nikah. Tidak heran jika pekerja di negara maju sanggup bekerja lebih dari dua belas jam setiap harinya.
Apakah hal tersebut akan terjadi pula di Indonesia. Tentunya hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pekerja saja. Saya yakin jika kesejahteraan sudah didapat oleh semua pekerja, bahkan sampai pekerja buruh sekali pun, kualitas pekerja di Indonesia pun akan meningkat. Kita bisa mulai dari hal yang paling kecil, yakni menghargai waktu. Jika setiap pekerja sadar bahwa waktu sangat berharga dalam kehidupannya, tentunya budaya terlambat pun menjadi berkurang dan hilang sama sekali. Waktu adalah uang. Semakin mampu kita menghargai waktu, semakin besar pula kesejahteraan bangsa ini akan diperoleh.
Mari bekerja, memulai dari hal-hal kecil yang terkadang sering kita abaikan. Setelah itu, mari disiplinkan diri sendiri.




Bandung, 18 Februari 2012

Friday, 17 February 2012

Sepotong Puisi untuk Kekasihku


Di sebuah senja yang kian meremang, sepasang kekasih bertemu untuk sebuah perpisahan di sebuah dunia yang barangkali tidak pernah mereka sadari sebelumnya. Mereka saling bercerita, dengan gaya bahasanya yang khas, dan tiadalah yang bisa mereka lakukan selain saling menguatkan cinta mereka satu sama lain.

Lelaki  : Di bis kota terakhir menuju kotaku, aku selalu menyayangimu…
Wanita : …Bis terakhir yang meninggalkan kerinduan padamu.
Lelaki  : Kerinduan yang takkan hilang meski senja telah berangsur merambah layu.
              Kerinduan padamu!!!
Wanita : Pada senja yang kian muram, dibayangi langit pekat menambah sendu suasana
              pada malam semu.
Lelaki  : Apakah di sana kau selalu menatap satu bintang yang kau yakini itu adalah
              jelmaan senyumanku yang tak kau sadari selalu menggenang di langit malam…
Wanita : Bintang terang, pada titik yang begitu jauh. Selalu ingin kurengkuh agar
              senyummu juga tak luput dalam mimpiku.
Lelaki  : Selalu juga kukejar bayang-bayangmu yang hilang tanpa arah. Begitulah selalu
              aku menampar wajahku sendiri ketika aku tidak bisa menyentuh bayangmu itu.
Wanita : Bayang-bayang hanyalah bayang-bayang yang selalu menjadi bayang-bayang
              dan akan tetap menjadi bayang-bayang…(terdiam) layaknya bayang-bayangmu
              yang juga hanya mampu kuikuti saat mata terpejam.
Lelaki  : Bayang-bayangmu selalu kucari dalam mimpiku antara ada dan tiada. (menatap
              wajah si wanita) bukankah bayang-bayang juga tidak ada yang abadi? (mema-
              lingkan pandangan, berpikir dan dengan bersuara lirih) tetapi kuharap bayang-
              bayang senyummu akan abadi terlukis di cakrawala.
Wanita : Janganlah terus menerus kau berkejaran dengan bayanganku pada mimpi, kare-
              na kelak mimpi juga menghapus keyakinanmu. Sedang cakrawala hanya mampu
              menyamarkan, bukan menyampaikan.
Lelaki  : Aku mencarimu sayang, namun tak kutemukan kau di sela-sela bintang yang
              bersinar itu. Apakah harus kubaca jiwamu agar aku tahu kemana engkau pergi?
              Aku mencarimu sungguh meski cakrawala itu taklagi benderang.
Keduanya terdiam, saling merangkai kata-kata dalam ingatan untuk kembali diucapkan. Mereka cari kata-kata yang bisa menguatkan, dan betapa sebuah kata mampu menguatkan cinta mereka tanpa pernah goyah sekalipun terhempas oleh gelombang besar yang bergelora.

Wanita : (mendekat) Aku tak ingin kau cari, aku akan datang sendiri sekalipun hanya
              menjelma sebagai langit malam ungu pekat. Wahai kau kekasihku…(seakan-
              iba melihat si lelaki) cakrawala itu akan kembali benderang kala kita hapus se-
              genap kerinduan.
Lelaki  : Aku selalu menunggumu meski kau menjelma menjadi titik-titik air hujan pun,
              karena aku hilang tanpamu. Wahai kau yang terindah… kita sama-sama terlahir
              untuk bersama dan tak ada yang memisahkan kita meski langit mendung pekat!

             

                           

Surat dari Desa


Anak-anak bermain di padang terbuka. Burung-burung merdu berkicau dalam kemilau senja dan mega-mega yang selalu berarak bermain dengan matahari. Dan kulihat semuanya tampak begitu nyata, kekasihku, seperti bayangan yang makin lama makin nyata penampakannya. Semuanya selalu nyata, karena segala yang ada—meski hanya  berbentuk bayang-bayang belaka—akan menjadi suatu hal yang nyata dan fana. Itulah hidup. Itulah kehidupan. Dan itulah desa, sayangku.
Barangkali kita akan menjadi fana dalam waktu. Namun perlu kau ingat, di desa ini kita takmesti harus berpaling dari kehidupan yang bengis. Inilah desa, tempat dimana segala makna ditemukan dan tidak akan ditemukan di belahan kota lain meski kota tersebut sudah rimbun oleh kemajuan teknologi dan asap. Dan di desa ini sayangku, kita akan mudah mengatur laju waktu. Kau akan tampak lebih muda dan cantik karena udara segar dan cahaya matahari yang murni akan selalu membuatmu merona. Percayalah, aku tidak pernah bohong.  Bukankah bohong itu dosa? Desa akan selalu membuatmu kaya, meski kaya bukan berarti bergelimang, kau akan kaya dengan ilmu dan makna.
Senja belum sampai pada batasnya, tenang saja. Di desa senja akan selalu ada, selalu bercahaya, selalu kemilauan, dan selalu merona. Aku berjalan di pematang sawah, menyusuri jalan yang kelak akan kita lalui bersama, dalam senja dan tempat yang sama. Kita menyusuri pematang, menyusuri jalan setapak dengan iring-iringan burung yang selalu mendendangkan kita sebuah nyanyian yang indah melebihi melodia orkestra yang diciptakan oleh manusia. Kita akan selalu mengenangnya, menyimpannya baik-baik dalam ingatan dan tidak akan mudah dilupakan begitu saja oleh waktu dan usia. Namun semuanya hanya harapan sahaja, karena kini, dalam remang senja yang memerahkan cakrawala, aku masih sendiri menyusuri pematang sawah tanpamu. Aku masih menyusuri segenggam harapan tentangmu yang selalu tersusun rapi dalam sanubari, mungkin saja hanya berujud sebuah harapan belaka. Hanya harapan sahaja.
Apa kabar kamu? Semoga di kota sana kau akan tampak selalu bahagia. Aku masih betah di sini, barangkali tidak akan kembali lagi ke sana. Namun jika kau masih sudi untuk menungguku dan bertatap muka denganku, kau tinggal bilang saja. Aku akan kembali padamu dan kuceritakan kisahku selama di desa dengan penuh hasrat agar kau mau mendengarnya. Karena di desa ini aku takkan pernah habis-habis mendulang sebuah kisah. Dan sebuah kisah akan menjadi sebuah kenangan sebuah penanda bahwa aku pernah berada di desa ini, desa yang selalu membuatku bahagia dan selalu mengingat dirimu.
Kau ingat kapan terakhir kali kita bertemu dalam waktu? Aku selalu menunggumu dalam waktu dan berharap akan bertemu bertatap muka dalam waktu pula. Karena di dalam waktulah ada suatu cinta yang akan aku kenang dan aku sembahkan hanya untukmu saja. Masalah perjumpaan atau tidak itu urusan belakangan, tetapi cinta adalah urusan hati. Siapa pun memiliki suatu cinta dalam waktu, tinggal dikeluarkan dalam dunia nyata. Seperti desa yang selalu menjadikan segala bayang-bayang menjadi nyata.
Anak-anak tertawa riang menikmati senja, menikmati alam. Jalan yang kususuri bertemu pada sebuah simpang dan kuputuskan untuk singgah di sebuah kedai. Kupesan minuman sekadar melepas lelah. Hmm, barangkali segelas teh dingin cocok untuk tubuhku yang panas. Teh dingin yang selalu kau minum kala senja. Aku selalu minum dan makan makanan dan minuman yang kau suka karena itu semua akan membuatku selalu mengenangmu. Jangan marah, aku hanya sekadar mengenangmu, karena mungkin saja aku sangat rindu padamu. Teh itu kuminum dengan penuh kenikmatan, kuhabiskan dalam sekali tegukan. Barangkali aku rakus atau benar-benar terlalu dahaga. Tetapi bagaimana lagi? Meskipun teh itu adalah kenangan tentang dirimu, aku terlalu haus dan ingin segera kuhabiskan dengan penuh kenikmatan. Semoga akan kudapati lagi segelas teh yang membuatku kembali teringat dirimu.
Tiada keraguan, tiada keresahan, segalanya serba melayang tanpa pernah takut untuk tersesat. Di desa, aku bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan tidak pernah ada keraguan untuk berpikir sekali lagi, namun apa yang kuputuskan tetap ada dalam suatu garis. Sayangku, apakah segalanya harus diungkapkan dengan kata-kata? Kau selalu terdiam, tetapi aku tahu diammu mengandung kata. Seperti arakan awan yang selalu bergerak di antara mega-mega, seperti desau angin yang memainkan ujung batang padi hingga bergoyang seirama dengan laju waktu. Semuanya tanpa berkata-kata namun aku tahu itu adalah sebuah bahasa yang paling tepat dalam menyampaikan pesannya. Begitulah, aku ingin mengungkapkan apa yang kurasakan di desa ini padamu tanpa banyak berkata-kata—bahkan tanpa satu patah kata pun.
Tentunya aku tidak hanya sekadar membayangkan saja. Sudah kubilang tadi di desa ini segalanya menjadi nyata, tidak sekadar bualan seperti di banyak kota. Dan aku ingin mengajakmu masuk ke dalam dimensiku yang kini sedang menikmati udara desa dan akan selalu menikmatinya sampai kapan pun karena aku memang mencintainya. Seperti mencintaimu. Seperti merindukanmu. Seperti mengingatmu. Ya, hanya semacam itulah. Namun ternyata tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk menjadikan semuanya menjadi suatu kenyataan. Dan semoga ketika surat ini sampai di tanganmu, kau baca dan kau pahami betapa rangkaian kata-kata di dalam tulisan ini tidak hanya sekadar rangkaian kata-kata belaka. Surat ini adalah harapan, dan selalu bisa terjadi harapan menjadi kenyataan. Mimpi yang akan berubah menjadi kenyataan. Cita-cita yang kelak bisa diraih. Begitulah suratku, dan hanya kaulah yang bisa mengerti semuanya.
Terimalah bahwa desa tidak selamanya memuakkan. Desa tidak selamanya membuat kau terkucil. Banyak cerita dan kenangan yang bisa kita raih di desa, di tempat dimana kini kakiku berpijak. Dan barangkali kita juga bisa temukan cinta...











Cihonje, 03 Juli 2010
21.38

Hujan Penghabisan


Waktu perlahan bergerak dalam titik-titik air hujan...                         
Mentari berlindung erat di balik lengan ibunya. Hujan deras mengguyur danau kecil itu. Semula, matahari memang terik menyengat daerah itu, menyengat permukaan air danau hingga akhirnya menguap dan lambat laun menjadi surut. Namun, iklim sekarang memang susah untuk ditebak. Baru saja matahari—yang kata Mentari adalah kembarannya—menyengat dengan cahaya benderangnya, mendung datang begitu cepat begitu menggetarkan. Menutup matahari sehingga cakrawala menjadi menggelap begitu saja. Perlahan hujan yang tidak pernah diduga kemunculannya itu terun membasahi tanah yang sebelumnya kerontang. Dan jadilah Mentari dan ibunya pun berusaha mencari tempat untuk berteduh.
Danau itu bukanlah danau yang terluas, bukan pula sebuah objek wisata. Danau itu jauh dari pusat peradaban, dimana hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengunjunginya. Orang-orang memang jarang sekali mengenalnya, tetapi bagi ibu Mentari danau itu adalah sebuah tempat yang mahaindah dan mahadahsyat untuk dilupakan begitu saja. Ia pernah membuat suatu cerita di sana, dan cerita itu tidak pernah hilang meski waktu semakin memutarbalikan keadaan. Ibunya masih akan selalu ingat bagaimana ia pernah membuat suatu kenangan di sana, di danau itu, danau yang sepi dan tenang. Menyeruak ke dalam sunyi.
Nun jauh di balik keramaian kota danau itu berada. Sangat berbeda dengan danau-danau yang lainnya. Angsa-angsa berenang dengan leluasa dan kerumunan burung-burung berpesta pora di cakrawala. Hutan yang masih tampak berseri, air danau yang selalu memantulkan cahaya. Tetapi tiada pernah orang bisa menemukannya, barangkali karena danau ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang masih memiliki hati. Segala pemandangan seperti itu bukan hanya rekayasa imajinasi belaka, segalanya nyata, bahkan lebih nyata dari apa pun yang ada di dunia ini yang sebenarnya hanya tipu daya sahaja. Danau ini nyata, ada di balik cakrawala.
Mereka berlindung di bawah dedaunan yang sangat lebar, entah jenis daun apakah itu. Namun cukup untuk dijadikan tempat berteduh bagi Mentari dan ibunya. Mentari yang mungil memeluk erat ibunya. Hujan dan angin dingin membuat ia menggigil.
“Sabarlah sayang. Ini hanyalah hujan, bukanlah badai,” kata ibunya.
“Memangnya kalau badai kenapa bu?”
“Kalau badai, apa yang ada di sini akan hancur dan musnah,” jawab ibunya.
“Oh begitu? Berarti kita juga ikut musnah dong bu?” tanya Mentari.
“Haha, kamu pasti tidak mau kan?”
“Aku gak mau! Aku mau sama ibu saja!”
Mentari semakin mengeratkan pelukannya. Aroma tanah basah tercium dengan kuat di cuping hidung. Hujan belum tampak akan berakhir. Ibunya pun kedinginan pula, namun ia tidak mau pula terlihat kedinginan di tempat yang ia cintai ini. Hujan ini adalah kenangan pula, dan ia tidak mau melupakan kenangan. Maka ia paksa untuk tidak merasa kedinginan meskipun percik hujan kadang membasahi tubuhnya.
“Kamu kehujanan sayang?” tanya ibunya kembali.
“Tidak ibu, aku hangat di pangkuan ibu,” jawab Mentari.
“Kalau kehujanan bilang ya?”
Mentari mengangguk. Ia selalu merasa aman di dekat ibunya. Akh ibunya yang selalu ia cintai. Memang, ia masih terlalu kecil untuk mengerti bagaimana menyayangi, namun ia tahu ibunya adalah orang yang harus ia sayangi. Ia terlahir tanpa ayah, kata ibunya ayahnya telah meninggal. Dan Mentari yang masih kecil itu pun tidak akan pernah tahu siapa ayahnya, bagaimana bentuk mukanya, dan bagaimana hangat jiwanya apakah sehangat jiwa ibunya ataukah tidak? Ia tidak akan pernah tahu.
“Ibu...”
“Ya sayang?”
“Mengapa ibu ajak aku ke danau ini?”
Ibunya hanya tersenyum manis.
“Soalnya hanya danau ini saja tempat yang paling indah di sini,” jawab ibunya manis.
“Kok tidak ada orang?”
“Soalnya orang-orang sekarang sudah tidak peduli lagi tempat-tempat indah seperti ini.”
“Kenapa mereka tidak peduli lagi bu?”
“Karena mereka sekarang lebih menyukai gemerlap dunia daripada alam indah seperti ini sayang. Mereka sudah tidak mau menginjak tanah basah seperti ini lagi. Mereka takut kotor.”
Mentari terdiam. Hujan belum mau untuk berakhir.
“Kalau kamu sudah besar, kamu harus sering-sering ke sini ya sayang?” kata ibunya.
“Bagaimana aku bisa ke sini ibu?”
Ibunya tertawa.
“Haha, kau pasti bisa kok ke sini, asal kau sudah tahu caranya.”
“Caranya bagaimana bu?” tanya Mentari.
“Sini ibu kasih tahu,” lalu ibunya berjongkok dan membisikkan sesuatu di telinga Mentari. Senyum manis menghiasi kedua bibir mereka.
***
Hujan belum mau berhenti dan waktu semakin beranjak lalu...
Mereka masih berteduh di tempat yang sama, di tepi danau yang permukaan airnya mulai menaik. Cakrawala mendung kelabu, siapa yang bisa mengusirnya? Mereka terdiam menatap cakrawala, semoga hujan segera berlalu di tempat ini dan mereka bisa berlayar mengitari danau ini dengan sampan utuh yang tergeletak takjauh dari tempat mereka berteduh. Mentari sudah tidak sabar untuk berlayar mengelilingi danau ini.
“Ibu apakah dulu ayah sering mengajak ibu kemari?”tanya Mentari.
“Ya sering, makanya ibu menyukai tempat ini,” jawab ibunya. Perlahan kenangan-kenangan muncul di dalam benaknya. Dan selalu saja ketika kenangan-kenangan itu muncul, senyum manis selalu menghiasi bibir ibunya. Kenangan apakah yang bisa membuatnya tersenyum selalu kala mengingatnya?
“Di sinilah ibu pertama kali mencintai ayahmu,” kata ibunya lagi, “Ia selalu mengajak ibu kemari jika ibu sedang bersedih. Ayahmu menggandeng tangan ibu dengan erat dan membawa ibu ke tepi dermaga di sebelah sana. Setelah itu ayahmu akan mendayung sampan dan berlayar ke seberang untuk memetik beberapa bunga. Kau tahu sayang? Bunga-bunga itu sangat segar dan wangi, seakan baru saja mekar ketika ayahmu memetiknya. Ia memang pandai membuat ibu bahagia. Kau tahu bagaimana ia meletakkan bunga itu padaku?” ibunya kemudian mengambil setangkai anggrek liar yang berserakan di sampingnya dan meletakannya di telinga Mentari, “Seperti ini,” katanya.
Mentari terpana, ia membayangkan bagaimana ayahnya dulu melakukan hal yang sama dengan yang ibunya lakukan, bahkan lebih romantis dari apa yang ibunya lakukan untuknya. Siapa ayahku? Di mana ia berada? Pertanyaan itu terbersit begitu saja dalam pikiran Mentari. O, ia ingin sekali tahu dan bertemu ayahnya yang kata ibunya baik itu.
“Kau tahu Mentari? Di danau ini jika tidak sedang hujan, senja sangat indah. Matahari senja yang kemerahan itu, cahaya akan sampai di permukaan air ini dan menyebabkan air danau ini ikut menjadi keemasan dan kemerahan.”
“Benarkah itu ibu?”
“Ya, sayangnya hari ini hujan. Kamu tidak bisa melihat pemandangan yang menakjubkan seperti itu.”
“Dan... oh iya, ibu sudah pernah cerita belum kalau di sini banyak sekali angsa-angsa yang indah? Ya, angsa-angsa yang putih bersih bulunya itu berenang dengan sangat anggun di danau ini. Mereka saling berenang bersama, kawin dan beranak hingga kelestariannya tetap terjaga. Akh, sayang sekali lagi sayang, hari ini hujan sehingga kau tidak bisa melihat semuanya.”
“Mentari sayang...”
“Iya ibu?”
“Kamu masih mendengarkan ibu kan?”
“Iya aku masih akan mendengar ibu bicara.”
“Baiklah ibu akan teruskan. Ayahmu dulu laki-laki yang tampan. Siapa pun perempuan yang melihatnya pasti akan jatuh hati. Namun tanpa sangka ayahmu jatuh cinta pada ibu. Awalnya ibu juga masih ragu akan cintanya itu, tapi setelah ibu tahu bagaimana sikapnya pada ibu dan bagaimana danau ini akan selalu mengingatkan ibu padanya, ibu pun jatuh cinta padanya. Ibu dan ayahmu akhirnya menikah dan lahirlah kamu, sayang.”
Mentari ingin berucap sesuatu namun ia ragu untuk mengucapkannya. Lagipula ia tidak mau memotong pembicaraan ibunya. Ibunya masih terlihat asyik berbicara tentang kenangan. Dan hujan pun masih pula terlihat asyik bermain-main di cakrawala. Ibunya masih terus berbicara hingga akhirnya ia mengulangi sebuah kalimat:
“Kita hidup bahagia sayang. Kita akan selalu hidup bahagia...”
Ibunya semakin mendekap erat Mentari. Hujan tidak akan pernah pergi dari sana.
“Kita hidup bahagia sayang. Kita akan selalu hidup bahagia...”
Mentari masih ragu untuk berkata.
“Kita hidup bahagia sayang. Kita akan selalu hidup bahagia...”
“Ibu...”
“Ya sayang?”
“Siapakah ayahku sebenarnya? Ke manakah ia sekarang?”
Ibunya terdiam. Perlahan ia kembali membisikkan sesuatu di telinga Mentari. Hujan masih mengguyur danau ini, nun jauh di balik cakrawala.
***
Hujan pun menyusut menjadi gerimis...
Rumah itu tampak angker dalam balutan hujan, namun ada kehidupan di sana. Seorang nenek tua gelisah, menunggu cucunya terbaring koma atau mungkin sebentar lagi ajalnya telah tiba. Ia takut, cucu semata wayangnya harus pergi meninggalkan dirinya yang sudah renta dimakan usia. Seharusnya ialah yang lebih dulu meninggalkannya, namun takdir berkata lain. Apa daya cucunya yang yatim piatu itu kini sedang terbaring koma terkena leukemia akut. Oladalah, nenek itu bukanlah orang berada, ia tidak mampu membawa anaknya untuk berobat. Dan kini, semuanya sudah terlanjur. Cucu yang manis itu kini terbaring tanpa daya dalam gerimis hujan yang tiada pernah berakhir...
“Mentariku, cucuku! Sunggu malang nasibmu! Dan lebih malang lagi nasibku, sebatangkara di sisa napas penghabisan ini. Jangan dulu pergi nak! Kau telah menjelajah tanah ibu dan ayahmu di sana, namun berilah kesempatan untukku sedikit lagi saja. Aku masih ingin melihat ceriamu di hari-hariku yang semakin beranjak tua dan mendekati akhir ini...” airmata mengalir deras di pipinya yang keriput.
Hujan masih akan terus turun, entah sampai kapan...
















Situ Gede, 11 Juli 2010
13.00—21.11